Japanophile

Bagi teman teman yang sempet baca bagian “who’s bubbles?”, pasti udah baca kalau gue ini Japanophile. Gue suka banget sama Jepang. Kebudayaannya, bahasanya (walau ga bisa.. ini maksudnya kagum gitu), tempatnya, pemandangannya, literaturnya, gaya hidupnya, teknologinya.. dan yang paling gue gemari adalah.. J-pop culture. Satu satunya sahabat gue disini adalah orang Jepang. (Ini bukannya pilih teman ya, tapi memang secara kebetulan doi-lah yang paling cucok sama gue dan ngobrol nya nyambung, banyak kesamaannya sama gue, dan orangnya sifatnya cukup mirip gue.)

Bagaimanakah asal usulnya sehingga gue menjadi maniak segala sesuatu yang berbau Jepang?

Waktu kecil dulu, seperti banyak anak Indonesia seumur gue di zamannya, gue penggemar komik Jepang. Bahkan gue mengoleksi komik2 tersebut. Candy Candy, Akira, Rose of Versailles (this one’s my absolute favorite), Eroica, Jendela Orpheus, Throbbing Tonight, Detective Conan dan Crayon Sinchan. Kayaknya masih ada beberapa serian lain lagi, tapi gue lupa. Drama seri anak anak favorit gue apalagi kalau bukan Doraemon. Gue masih inget, Doraemon ditayangkan di RCTI setiap hari Minggu pagi… jam 8 ya kalo ga salah? Ini di sekitar 1990an gitu.

Sejak suka baca komik2 tersebut, gue selalu punya ketertarikan sendiri terhadap kebudayaan Jepang. Bagi gue, Jepang itu kok kayaknya keren banget, orang orangnya artistik dan pastinya kece abis (bayangan gue dulu orang Jepang itu pasti mukanya mirip seperti yg di komik).

Bokap Nyokap gue dulu pernah tinggal di Sudanuma, di prefektur Chiba selama 2 tahun. Ini sewaktu gue masih 2 tahun umurnya. Bokap kuliah bahasa di Jepang. Gue nggak ikut, melainkan dititipkan ke Yangti&Yangkung gue. Tapi gue pernah ikut jenguk mereka selama beberapa bulan. Gue dibawa ke Tokyo Disneyland.. ya jelas memori gue belum jelas saat itu, namapun masih priyik gitu. Cuma setelah gue gedean, gue sering dikasih lihat foto2 dari liburan gue ke Jepang tersebut. Sejak kecil aja ortu gue selalu ngomongin tentang masa mereka hidup di Jepang. Nyokap gue sering cerita tentang beliau dulu kerja part time di toko roti, naik sepeda, waktu masih hamil adik gue. Mereka sering bernostalgia tentang masa masa Jepang mereka, they always said they loved it there, and would love to come back someday. Sampai sekarang, nyokap gue masih seorang pengagum budaya Jepang. Nyokap gue selalu bilang kalau etis kerja orang Jepang itu patut dicontoh, dan kebudayaan kolektivis mereka itu ideal. (sejak gue tinggal disini dan mengadopsi beberapa nilai moral kebudayaan barat seperti individualisme, topik ini sering menjadi topik diskusi/argumen di antara kami berdua. Tapi ini cerita lain untuk post di lain waktu. :) ).

Lalu, di saat gue SD kelas 3 atau 4 gue lupa, Eyang Putri & Kakung (Kakek& Nenek dalam budaya Jawa) gue menjadi host family dari sebuah program pertukaran pelajar. Anak hostnya adalah orang Jepang, namanya tante Eriko. (harap diingat gue masih priyik jadi harus panggil dia ‘tante’) Gue inget kalo gue dan adik gue kagum banget sama tante Eriko. Orangnya cantik, bajunya anggun anggun, kalau ngomong juga halus sekali, sopan dan bener2 ladylike banget. Ortunya tante Eriko dan Eyang-eyang gue menjadi teman baik di kemudian hari setelah pertukaran pelajar tersebut. Lalu saat tante gue menikah, tante Eriko datang ke semua acara pernikahannya (gue inget totalnya 3 hari.. acara adat, sakramen nikah dan resepsi), dan dia pakai kimono ke semua acara tersebut. Kimononya cantik banget, gue yg dulu belom pernah ngeliat baju adat dari negara lain langsung tersepona.

Pada intinya, I have every reason to be a Japanophile ever since I was a tiny young sprout. And that’s exactly what I turned out to be.

Puncak kemaniakan gue terhadap budaya Jepang tejadi 5 tahun yang lalu, saat gue menemukan boyband Jepang benama… Arashi. Awalnya gue lagi iseng nonton dorama berjudul “Yamada Taro Monogatari”, dibintangi oleh Kazunari Ninomiya dan Sho Sakurai, keduanya anggota dari grup boyband tersebut. Gue kesengsem sama Sho Sakurai, dan langsung gugel infonya. Sejak saat itu gue jadi tahu tentang Arashi. Iseng isenglah gue dengerin beberapa lagu mereka. Cheesy? Sudah pastilah nek, namanya pun boyband. Jangan harapkan kualitas musik yang maknyus. Setelah pencarian yang cukup ekstensif melalui gugel dan situs situs lainnya, gue temukan kalau Arashi ini punya beberapa acara tv yang mereka bintangi. Acara acara ini disebut variety show. Lucu dan sarat info tentang budaya Jepang.

Gue juga jadi sering nonton dorama yang dibintangi para personil Arashi. Yang paling sohor kayaknya “Hana Yori Dango”  deh. (Meteor Gardennya Jepang). Walau bagi gue, F4 versi Jepang masih kalah ganteng dan macho kalo dibanding sama F4nya Korea ataupun Taiwan. Keknya F4 Jepang agak2 terlalu menye menye, ke cewekan gitu deh. Bandingkanlah dengan Vanness Wu atau Lee Min Ho yang macho gitu. Tapi buat gue, Makino versi Jepang itu nomor satu. San Chai sama Geum Jan Di minggir deh.. hehehe.

Sejak sering nge-dorama, selera gue pun mulai melebar. Lama lama gue nggak cuma nonton dorama yang dibintangi personil Arashi aja. Dari dorama dan film film Jepang gue belajar makin banyak tentang budaya Jepang. Drama Jepang bagi gue pas, nggak terlalu panjang kayak drama Korea (walaupun kalo ada K-drama yg bagus gue nggak keberatan nonton walaupun panjangnya ajubile).

Suami gue Mr. Bubbles, adalah veteran dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Dulu dia ditempatkan di base di Yokosuka, Jepang selama 4 tahun. Mr. Bubbles ini juga Japanophile.. penggemar manga, anime, buku2 literatur Jepang dan kebudayaan Jepang. (malah sempet pacaran sama orang Jepang juga dulu, hihihi) Karena sesama Japanophile juga, inilah salah satu hal yang membuat gue nyambung sama dia.

Yang paling tragis dari nasib gue sebagai Japanophile (#hueeekksss #LEBAYABIS) adalah.. gue belom pernah ke Jepang sebagai orang dewasa! Jadi satu satunya kunjungan gue ke negara impian itu ya waktu gue masih kecil priyiks itu. Sempet transit di Jepang, tapi cuma di bandara aja, nggak kemana mana. Semoga dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, gue sekeluarga bisa mampir untuk liburan. Walau hanya bentar aja, gue pasti seneng banget.

Sebagai Japanophile, salah satu hal utama adalah tentunya kesukaan terhadap makanan Jepang. Makanan Jepang kesukaan gue adalah kareiraisu (rice curry). Kare Jepang ini rasanya bener2 creamy, nggak terlalu penuh rempah rempah.. dan terkadang suka dipakein keju.. bikin rasanya makin mantap abis. Di kota gue ini sayangnya nggak ada satupun restoran Jepang yang menyajikan kare dalam menunya. Sementara di Indonesia aja udah bejibun banget restoran kare Jepang. Hiks. Jadi iri. Biasanya ya gue bikin sendiri aja, beli blok kare nya di toko Asia. Yang kedua dan standar abis adalah sushi. Di Amerika sini sepertinya mereka mengadaptasi konsep sushi, biar lebih cocok sama lidah bule. Ada sushi yang digoreng macam tempura gitu. Maklumlah orang buleleng sini kan demen apa apa yang digoreng dan berminyak :D

Gue juga suka banget sama ramen. Tapi, lagi-lagi, sayangnya di kota eike ini nggak ada resto Jepang yang menyajikan ramen. Kabarnya sih dulu ada, tapi restorannya tutup. Mr. Bubbles ini penggemar berat ramen. Sampai dulu kami pernah coba coba bikin ramen sendiri, tapi rasanya yah… gitu deh. Enak sih enak, tapi nggak ada mirip2nya sama yang dia coba di Jepang dulu katanya. Hehehehe. Kunci kesuksesan ramen kan berada di kuahnya. Harus buat kaldu sendiri endeswey endesbre. Jadi, biasanya kalau kami bener2 ngidam kare, kami pergi ke Chicago (sekitar 5 jam nyupir dari sini) dan makan ramen. Serunya, kami akan ke Chicago lagi minggu depan! hihihihi. Sebetulnya tujuannya sih sederhana aja, yaitu mau buat paspor Indonesia untuk Baby Bubbles di Konjen. Tapi sekalian mumpung ke sana, iya kan? Sayang, udah cape2 nyetir dan bayar bensin mahal… mending sekalian mampir makan ramen. Hehehehe.

Begitulah cerita gue dan kemaniakan gue dengan Jepang. Teman teman sendiri gimana, adakah satu hal yang kalian sukai banget? Please do share!

Have a great day, all!

My Favorite Things Right Now, Second Edition

Hola, friends!

It’s only mid week, huh? Can we fast forward the week to Saturday already? Heck, I’ll even take Friday.

I’m back for the second edition of “My Favorite Things, Right Now”. Here are a few things that make my days a little bit sunnier lately:

  • Game of Thrones. This series is the wettest dream of fantasy, medieval history, and drama fans alike. Often  described as “Lord of The Rings meets The Soprano”, this series is one of television’s biggest hits this season. Based on a series of novel called “A Song of Ice and Fire” by George RR Martin, this series tells the tale of seven powerful families all trying to win one powerful throne and in the process we get to see betrayal, revenge, love, lust, war, manslaughter.. and incest. I love that this series is very much un-Machiavellian. It’s not black or white. You’d be hard pressed to find the “antagonist” or the “protagonist”. Everyone is grey. Because much in life is grey, am I right? Things are not always as straightforward as the goodie hero and the baddie villain. And this is exactly what I LOVE about this series and show. Everyone has their own agenda, and everyone tries to pursue their own benefits.  Also, GRRM will kill your favorite character. Fall in love with a character? Better be careful cause you don’t know what’ll happens in the next chapter. This series just gives me life. Pardon the cheesy, but oh dear gods.. it is just that.freaking.good.
  • The Client List. So this is definitely one of those (shameful) guilty pleasures. Short of wine and dancing in your living room to Beyonce, that is. This is soap opera, maybe not the finest of them all, but it does me good. Beautiful eye candies (the dudes in this show are more than just aesthetically pleasing, ladies), story line that’s borderline trashy (desperate housewive got left by her douchenozzle of a husband and was forced to find work…. as a masseuse who does “extras” for her clients, if ya know what I mean). Okay, okay I’ll be honest.. it is not borderline trashy.. it IS trashy.. but a girl needs her telenovela fix, yes? So I’m absolutely not proud that I like this series, but what can I say? My heart wants what my brain shames me for. :)  Also, I really would prefer not to attach the poster for this series here, because of its very R-rated nature, hahahaha. If you need to see it for your own eyes, simply google image search The Client List. Just a reminder, Not Safe For Work! :D
  • Girls. This is HBO’s newest series this season. Often compared to Sex and The City.. but I don’t think they’re of the same type. This is a story of four early twenty somethings trying to make it in NYC– trials, tribulations and all that biznass. The women in this series are of “ordinary beauty”, that is to say, don’t expect them to look like Megan Fox or Angelina Jolie, heavily made up and wearing the prettiest, latest pair of Louboutins money can buy. They look ordinary, just like you and me. Their clothes are cute, yes, but not of dreamlike level. Maybe Zara -cute, or H&M-cute. This is a show that’s earned rave reviews from the critics but not so much from the audience. People have complained of the “lack of diversity” in this show (Four white girls in NYC, what else is new?), cultural insensitivity (the opening scene in the first episode was of the main character Hannah, having argument with her parents who decided to stop funding her after doing so for two years after her graduating college.. in a time of bad economy and people who struggle to make it day to day to pay bills, it just seems really insensitive. It feels a bit like, “look at me I’m all so privileged” and that pushes a lot of buttons for a lot of people). I can understand it, really. I mean I feel almost guilty for finding myself to be attracted to this show. Also, be forewarned: lots of nudity. Like, very uncomfortable nudity.
  • Reading Indonesian foodie blogs. I recently, upon some intensive blog hopping, stumbled upon a sleuth of Indonesian bloggers who blog about nothing else but eating establishments across the country, complete with beautiful photos. This is like going down the rabbit hole for me. Once I start, I just can’t stop. I haven’t been home for 8.5 years and by reading these blogs I feel like I’m catching up on the places I’ve never been to. I mean, gosh! The culinary scene in Indonesia is just so wonderful. I’m also making a list of places I’d like to eat at if the opportunity comes and I get to go home again.. (you can also bet I would gain 20 pounds easy!). My favorites are Jenzcorner and Wanderbites. Also, reading these blogs in a state of hunger is very dangerous. Take caution; eat first. :P
  • George Orwell’s 1984. A little late to the game (a LOT late, actually, but who’s taking notes?). It is a classic for a reason. An absolute page turner. I’ve always been strangely interested in subjects related to Stalinism, socialism, communism, and the likes (perhaps a result of being married to a laissez-faire Capitalist?). Recently I’ve been reading some books and been watching some documentaries on Netflix about North Korea. This, too, is like going down a rabbit hole. Can’t stop, won’t stop. If you’re interested in reading up about this topic, I’d suggest starting with this book by Barbara Demick, “Nothing to Envy”. As to documentaries, I’d suggest starting with this hour long National Geographic presentation, “Inside North Korea”. Also, if you’re a Hunger Games fan, you’d probably notice the disturbingly striking similarities between life in (fictional) Panem and life in (real) North Korea. 
  • Making plans for Baby Bubbles’ 3rd birthday party in July. Actually, calling it a “party” would be a stretch, seeing as this will only be a small, intimate gathering of our closest friends and family. The number probably won’t even reach 15. But for simplicity’s sake, I’ll just call it party. It’s going to be a barbeque at a local park with a playground that Baby Bubbles really likes (we call it “Spaceship Park”  because there is this jungle gym area in a tower shape resembling space ship). This will keep the kiddos busy and us adults can hang out while barbequing. I’m thinking of procuring a pinata.. but definitely not from big names like Walmart or Party City, because they cost a fortune. Instead I will be going to a Mexican supermarket in our town’s Little Mexico. A bonus point of doing this is that I can hop next door to our favorite Mexican restaurant and do lunch. I know planning a party for July in May is a little early, but I need something to look forward to these days.. lots of stress round these parts, folks.
What are your favorite things right now, friends?

Ira Glass, on Marriage and the “No Escape Clause”

KURT BRAUNOHLER: I do have a theory now that if I do get married in the future, what I think I would want to do is have an agreement that, at the end of seven years, we have to get remarried in order for the marriage to continue. But at the end of seven years, it ends. And we can agree to get remarried or not get remarried.

IRA GLASS: Why?

KB: Because then I think you get to choose. And I think it would make the relationship stronger.

IG: ...I think actually one of the things that’s a comfort in marriage is that there isn’t a door at seven years, and so if something is messed up, in the short term, there’s a comfort of knowing, ‘well we made this commitment, so we’re just going to work this out. And even if tonight we’re not getting along, or there’s something between us that doesn’t feel right, you have the comfort of knowing, we’ve got time, we’re going to figure this out’. And that makes it so much easier. Because you do go through times where you hate eachother’s guts, and the no escape clause, weirdly, is a bigger comfort to being married than I ever would have thought before I got married.

(From NPR’s Valentine edition of This American Life).

This is one of the best, accurate depiction of marriage I’ve ever heard. Mr. Bubbles and I had a discussion about this last night and we both agree that Ira made a valid point.

Because let’s be real, marriage isn’t always peaches and cream. And the fact that, somehow, in so many words, when we made that vow “for better or worse”, we imply that we’re stuck with other for.. well, ever, so shouldn’t we always try to work it out?

Because being “stuck with each other forever” is actually a very, very good thing. Marriage to me is a lesson in humility, a lesson in selflessness, a lesson in communication,and  a lesson in efficiency. Because I chose Mr. Bubbles, and now we’re in a team and we’re bind by this “for better or worse” contract. Even if, truth be told, some days I feel like strangling the dude, but at the end of the day we insist on making shit work. Because, well..

if we’re going together in this long journey, might as well work well with each other and enjoy the ride.

What are your thoughts, blogger friends?

Window Shopping

Temen2 blogger,

Pada suka window shopping nggak? Beli sih engga, cuma liat liat doang. Sejak adanya internet dan menjamurnya toko toko online, kita nggak perlu pergi langsung ke mal atau toko untuk window shopping lagi, kan? Hal ini juga berbahaya buat para banci belanja, karena sekarang kalau mo beli apa apa, tinggal klik “add to cart” dan masukkin info pembayaran, and et voila! Barangpun terkirim dan kita tinggal ongkang ongkang kaki aja tunggu ketukan pintu dari Pak Pos/Mas Tiki/UPS guy.

Sebagai ibu rumah tangga yang bujetnya  terbatas, gue jarang belanja  (macam baju, sepatu, tas, kosmetik, dkk). Kalo sewaktu muda dulu sih (ini artinya gue bukan mengakui kalo gue tua ya), gue banci belanja. Sekarang, gue kalo belanja baju/barang2 utk diri sendiri tunggu kalo ada sale gede gedean, kayak Black Friday, atau ada kode diskon buat belanja online yang mantaf diskonnya (mantaf bagi cheapskate macam gue ini artinya di atas 25%). Gue juga suka belanja di thrift store/consignment store karena harganya yang oke dan kalo kita pinter dan sabar milihnya, bisa dapet barang yang bagus dan jangka hidupnya masih panjang. Sering gue ketemu baju yang masih ada tag-nya, dijual di thrift/consignment store. Belanja second hand itu ada tips dan triknya sendiri, dan ibu mertua gue yang dulu ngajarin gue gimana caranya. Asal jangan lupa dicuci yang bersih aja kalo baju.

Walaupun gue jarang belanja, tapi hobi window shopping gue masih tetep gue jabanin. Apalagi kalau bukan online window shopping! Sensasinya ya sama lah, mirip mirip sama window shopping beneran di mal. Seneng aja ngeliat barang bagus, ngebayangin, kalo beli barang ini nanti dipake ke mana, kapan dipakenya, dll. Kadang kadang online window shopping malah jadi semacam terapi buat gue. Kalo orang lain retail therapy (terapi  melalui belanja), gue online window shopping therapy aja. Beli sih nggak. Tapi seneng aja. Aneh kah? Mungkin.

Ada orang orang yang nggak suka window shopping, seperti suami gue contohnya. Menurut dia, window shopping itu bikin stress, apalagi kalo lagi bokek. Ngeliat semua barang yang kita pengenin, tapi nggak bisa beli. Kok masokisme banget aja gitu, bagi dia. Kalo gue pemikirannya bukan begitu. Sebelum window shopping, gue udah wanti wanti ke diri sendiri, “Mau ada uangnya atau enggak, ini hanya liat liat aja. Kecuali kalo lo tiba tiba menang lotere, nah itu lain cerita.”

:D

And it works! For me, at least. I’ve been doing window shopping for so long, I stopped feeling stressed out about things I can or can’t afford anymore. Bagi gue, window shopping itu adalah kesenangan tersendiri.

Dan juga, gue kalo window shopping bukan ngeliat situs situs toko yang mewah gitu macam Barneys atau merk merk terkenal (dan mahal aje) kayak LV, Balenciaga, Dior, Prada,etc. Gue window shoppingnya di toko toko biasa aja, dan yang harganya masih terjangkau. Favorit gue macam ASOS, Shopsosie, ShopRuche, Lulu’s, Modcloth, malah juga gue sering liat2 di Forever21, Old Navy online, Target, dll.

Keuntungan dari online window shopping adalah.. gue bisa bikin wishlist! Hehehe. Kenapa ini gue sebut keuntungan? Karena kalo menjelang Natal/ultah, biasanya keluarga atau teman suka nanya, lo mau hadiah apa nih? Biasanya sih (jaim dulu pertamanya) gue bilang, ah nggak mau apa apa kok. Tapi mereka pasti akan terus nanya, nah.. baru deh jaimnya ilang dan gue malu malu (padahal ga tau malu sebenernya) bilang, gue punya wishlist kok. Terus pasti mereka minta liat. Hihihihihhh. Kalo lagi hoki, dapet tuh biasanya kado dari wishlist. Ya ngga semuanya ya. Dapetnya paling satu, dua. Tapi gue berterima kasih banget.

Hahaha. Muka tebalkah eike? Maybe. But admit it, isn’t it a nice perk, though? ;)

Kalo temen temen sendiri gimana.. pada suka window shopping juga? Kenapa? kalo engga, kenapa?

Have a great day, folks! Smile at someone and you might make their day today. :)

Terkadang..

(warning : a very emo post. If you don’t feel like emo today, skip ahead).

Gue mikir.. kalo jadi istri orang di negara asing itu nggak nyamannya banyak ya.

Kalo berantem sama suami, kalo berantem sama tetangga, kalo ada stress inilah, itulah.. nggak bisa gampang aja nyetir pulang ke rumah ortu untuk mendinginkan pikiran.

“Pulang ke rumah” itu artinya bayar tiket yang mahal, perjalanan jauh.

Gue ini orangnya termasuk jarang homesick.. tapi terkadang, kalo lagi banyak stress, rasanya pengen drop everything, pack my bags dan pulang ke rumah. Ke Indonesia.

Asalnya kami ada rencana pulang tahun depan.. tapi belakangan ini kami berubah rencana jangka panjang (berkaitan dengan rumah). Jadi kayaknya.. kami nggak bisa mudik tahun depan.

Sedihhhhhhh. Tahun 2014 kali baru pulang. Berarti udah 10 tahun sejak gue nggak pulang. Satu dekade.

Gue sering mikir, Jakarta sekarang kayak apa ya? Kalo orang ngomongin “Pacific Place” lah, atau nama mal apalah yang dulu belom ada saat gue disana.. gue ngerasa, wah.. Indonesia udah berubah banyak.

My country’s changing without me in it. Life goes on. And somehow it feels a little sad.

Sering gue mikir, sebenarnya setiap kali gue bilang “rumah”, rumah itu yang mana sih? Rumah itu di mana sih? Apakah rumah gue disini? I spent most of my adulthood here. Tapi setiap kali gue berpikir seperti itu, my heart won’t agree to it.

Home is in Indonesia. It was, it is. It has been.

And it will always be.

no matter how many years I’ve been away.

Life Recently, Through Pictures

Belakangan ini, setiap kali gue mulai ngetik post baru, pasti di tengah jalan mulai tersendat sendat. Inspirasi nulisnya hilang aja gitu. Bisa dibilang gue lagi terkena blogger’s block kali ya? Ide sih ada, tapi males aja nulisnya. Jadinya yang ada draft aja numpuk.

Tapi supaya blog ini nggak berdebu, gue tetep mau posting. Kali ini yang simpel aja deh.. melalui foto. Kualitas fotonya nggak oke, mohon maaf ya pemirsa, soalnya ini diambil pake kamera handphone. Hehehe.

So.. what’s up with Bubbles lately? Let’s see:

Ini foto Baby Bubbles di mulut badak, hehehe. Minggu lalu kami pergi ke kebun binatang. Di sana ada area bermain untuk anak anak, dan salah satu atraksinya ya si badak ini. Gimana caranya masuk ke dalam si badak? Ada lubang yang lokasinya di perut si badak bagian bawah. Jadi kayak terowongan kecil gitu. Anak gue yang maniak sama segala jenis terowongan langsung kegirangan. Berkali kali keluar masuk si badak. Oh ya, teman2 yang punya krucil, krucilnya punya comfort toy-ngga? Mainan yang dibawa kemana mana, kalo tidur harus nemenin dia. Nah, anak gue comfort toy nya boneka badak. Namanya “Mr. Hippo”. Saking sayangnya sama Mr Hippo, kalo pergi main ke taman juga harus dibawa lho!

Nah ini Baby Bubbles dan Mr. Bubbles lagi naik karusel di kebun binatang juga. Karuselnya lucu deh, karena semua binatang2 yg ada di karusel itu adalah semua binatang yang dipelihara di kebun binatang tersebut. Setiap kali kita ke kebun binatang dan lewat karusel, anak gue selalu minta naik karusel. Dua minggu lalu kami putuskan untuk beli membership di kebun binatang. Harganya terjangkau banget, dan bisa naik semua atraksi dengan gratis (non-member harus bayar tiket). Di kebun binatang ini juga ada kereta apinya. Seru deh. Ayo, siapa yang mau jalan jalan ke St. Louis, nanti kita kesini bareng! :D

Beberapa minggu lalu, kami berkunjung ke rumah temen dekat yang agak agak jauh. Kota dimana mereka tinggal sekitar 45 menit di luar kota kami, jadi nggak bisa sering sering kesana. Mereka tinggal di kota kecil, dan punya halaman yang luas. Itu area serodotan/ayunannya dibangun sendiri loh sama temen kita. Suami gue bantuin juga. Rumah kami halaman belakangnya kecil banget, dan nggak ada rumputnya, jadi kami seneng banget setiap berkunjung kesana karena Baby Bubbles bisa bebas lari larian di halaman dan main serodotan/ayunan. Kebetulan saat itu juga udaranya lagi enak dan hangat sekali. Agak agak aneh untuk musim semi, biasanya masih dingin tapi waktu itu rasanya udah mirip musim panas. Jadi gue pun bisa menikmati duduk duduk di halaman belakang mereka. Setelah punya anak, rasanya kami makin menghargai pentingnya halaman dan alam. Cita cita sih pengen beli tanah di kota yang lebih kecil (biar murah) dan bangun rumah sendiri. Pengen tinggal di tempat yang lega, luas, banyak pohonnya. Nabung dulu deh untuk sementara..

Ini kejadiannya di tempat temen tersebut. Si baby Bubbles tiba tiba nggak kedengeran suaranya, sibuk main sendiri di ruang depan rumah mereka. Terus terdengar “Mama.. help! Stuck!” Langsung gue hampiri. Eh.. ternyata dia ngurung dirinya sendiri di kursi rotan ini. Ini sebetulnya kursi, tapi nggak ada cushionnya. Lagi dicuci kalo nggak salah. Sebelum gue bebaskan dari kurungannya.. gue foto dulu. Hihihi. Tega ya gue.

So Mr. Bubbles got himself a sweet new gig at this awesome financial corporation. Nah, untuk merayakan, kami putuskan untuk mengadakan.. korean BBQ! Idenya tercetus waktu gue dan temen deket gue T lagi ngobrol tentang makanan yang lagi diidam-idamkan #pardonmycheesy. Kita sama sama pecinta Korean BBQ, dan kalo makannya di restoran tuh mahal aje.. jadi diputuskan, gimana kalo bikin sendiri aja? Kebetulan pas ada momen yang bisa dirayain, hehehe. Dua minggu lalu di hari Minggu, T dan gue pergi belanja ke supermarket internasional dan sepulang kerumah, langsung deh mulai masak-masak persiapannya. Yang bikin Korean BBQ spesial itu ya banchan (side dishes)nya. Sebisa mungkin kami pengen buat sama seperti yang di restoran. Langsung gue konsultasi dengan situs resep Korea yang terbukti oke (and my favorite!).. maangchi! Resep2nya mantap bok! Ada juga dua situs lain yang resepnya patut diacung jempol : aeriskitchen dan hannaone. Buat temen2 yang suka makan Korean BBQ, coba deh bikin sendiri dirumah.  Bagi yang ga bisa makan ba, bisa diganti dengan beef aja. Ayam juga enak deh kayaknya. Asal punya alat panggangannya aja. Kebetulan temen gue si T punya, dia bawa dari kampung halamannya (Jepang) waktu dia pindah ke sini. Menurut doi sih, beli di internet juga bisa loh, harganya sekitar $100-an. Not too bad, kan?

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, gue ini pecandu kuteks. Warna kuteks gue biasanya gue sesuaikan dengan mood, holiday, atau musim. Di musim dingin gue cenderung pilih warna yang gelap.. kayak biru tua, abu abu, marun, ungu. Di musim semi/panas, gue cenderung pilih warna yang gonjreng alias neon.. kayaknya cocok aja dan pas dengan moodnya. Kadang disesuaikan juga dengan holiday terdekat.. misalnya untuk Halloween gue pake kuteks oranye. Valentine’s day pake pink. Untuk Natal, merah dan perak. Nah karena kemarin ini sempet ada semingguan dimana udaranya panas banget serasa musim panas, gue langsung terinspirasi untuk pake kuteks neon. Hijau dan kuning bok, kayak bendera Brasil aja ya, hehehe.

Nah, kalo ini foto baby Bubbles dan salah satu teman mainnya di playground, si R. Sejak udara mulai menghangat, kami pasti setiap hari pergi ke playground. Si R ini selalu datang ke playground setiap hari Rabu sama dua adiknya, Nenek dan Kakeknya. Umurnya 4 tahun, dan dia dewasa banget, selalu ngayom yang lebih kecil dari dia. Baby Bubbles dan R ini sohiban, selalu main bareng, dan si R ini sabar dan perhatian banget sama dia. Lucu ya?

Sebelum Mr. Bubbles mulai pekerjaan barunya (di hari Senin kemarin), dia sempet dirumah. Mr. Bubbles ini orangnya workaholic. Selain kerjaan utamanya, dia juga nyambi ngajar di perguruan tinggi teknologi lokal. Sekarang dia juga lagi memulai kuliah S2. Di dalam profesinya dia, mempunyai sertifikat itu hampir wajib hukumnya. Semakin banyak sertifikat yang dia punyai, semakin banyak kesempatan untuk kariernya berkembang. Sudah berbulan bulan ini dia kerjanya belajar untuk sertifikat dan ambil sertifikat. Dia ini selalu sibuk, makanya gue senang banget kami sempat menghabiskan waktu banyak. Walaupun itu cuma dirumah aja, misalnya nonton tv barengan sambil unyel unyelan di sofa seperti di foto ini, rasanya bahagia banget!

So, that’s how life’s been around these parts. Hope you guys have been having such great time as well! Until next time.

My Favorite Things Right Now, first edition

I’ll start doing routine posts called “My favorite things right now”. If anything, this will guarantee my consistent appearance on this here blog. Here goes the first one.

  • The Hunger Games. Well, who isn’t liking this franchise nowadays, eh? I super adore Jennifer Lawrence, by the way. I just love her personality. If you aren’t on The Hunger Games bandwagon yet, hurry and get on board!
  • BBC’s Sherlock. Do you like detective stories? Do you like British accent? Then you are sure to enjoy this gem of a television show. It is incredibly smart and addictive, so please approach with caution. Although I’m not sure you can, once you dip into it. First season available on Netflix On Demand for US residents, and second season will air on PBS in May. (Though if you can’t wait, I’m sure there are variety of ways the internet can assist you with that. ;) ) Bonus point: great looking men in beautiful garb.Image
  • Mad Men. It’s just returned last Sunday for season 5. This show is so glorious, it is soap opera, it’s smart and sexy and troll-esque. Pretty much all you need for a good telly shows, Mad Men has. So go on, take the plunge and start watching this. You won’t regret. Look at these beautiful people. Image
  • Army Wives. Well.. this is definitely a guilty pleasure for me. I love watching all things military, reading all things military.. and this one appeals to my military junkie self AND my drama addict self. Image
  • The weather. 80 degrees in March? If this is global warming, consider me on board.
  • Neon nail polishes. What better way to usher in the warm spring season than to sport some bright, eye catching colors on your nails? None, I say. Image
  • A lot of outdoor time!

What are your favorite things right now? Please do share!

Mari ikut tanda tangan petisi untuk keadilan hukum!

Halo teman teman sekalian (terutama yang berdomisili di Amerika Serikat),

Pastinya udah pada denger berita tentang remaja dari Florida Trayvon Martin (17), yang ditembak oleh George Zimmerman karena Zimmerman mencurigai Trayvon Martin sebagai pengguna narkoba/berniat buruk. Sebelum kejadian, Martin berjalan melewati daerah perumahannya Zimmerman sepulang dari toko membeli permen untuk dibawa pulang ke rumah saudaranya. Martin ditembak, tanpa melakukan suatu hal apapun yang salah.

Kasus ini diduga sangat dilatar belakangi oleh masalah rasial.

Bagi yang ingin membaca informasi lebih lengkapnya, ini dia halaman Wikipedianya. Halaman tersebut mengutip berbagai artikel dari seluruh internet, jadi teman2 bisa baca2 lebih banyak lagi kalau tertarik.

Zimmerman saat ini tidak dipenjara. Dia masih bebas. Orang tua Trayvon Martin memulai petisi online untuk menuntut keadilan hukum, meminta Zimmerman untuk di prosekusi. Gue ikut menanda tangani petisi tersebut disini.

Bagi teman teman yang merasa kasus ini sangat tidak adil dan percaya bahwa Zimmerman patut diprosekusi dan bertanggung jawab atas tindakan kriminalnya, ayo ikut tanda tangan petisi ! Bisa di share juga di Facebook, siapa tahu ada teman2 yang berpendapat sama dan ingin membantu sebisanya.

Terima kasih ya! :) Have a great Sunday, all!

Kemanakah gue menghilang?

Haloooo teman teman internet.. (serasa ada yg baca aja :D )

Udah lama nih gak posting. Gue mengambil hiatus sementara dari blogging dan internet dan secara umum penggunaan elektronik. Main internetnya dibatasin, lebih banyak baca buku, ga terlalu sering utak atik telpon genggam juga, mengurangi nonton tv (yang ini harus gue akui kurang berhasil :D ). Lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Gue merasa stress beberapa waktu lalu dan gue berpikir, apakah ada yg bisa diganti dari gaya hidup gue? Gue ini orangnya cenderung mudah terkena stress, ini salah satu kekurangan gue dan makin tambah umur kayaknya semakin akut. 

Gue baca2 beberapa artikel mengenai gaya hidup dan gue putuskan, baiklah.. gimana kalau mulai mengurangi peran penggunaan elektronik dari gaya hidup gue? Tanpa kita sadari, setiap hari kita menggunakan peralatan elektronik dan tanpa kita sadari, kita habiskan berjam jam dari keseharian kita dengan hal tersebut.

Apakah itu hal yang jelek? Menurut gue sih tidak. Jelek-baiknya sesuatu itu sangatlah obyektif kalau menurut gue. Tergantung yang ditanya siapa dan bagaimana gaya hidupnya. Apakah profesinya, apakah statusnya, dsb. Gue disini bukan mau menghakimi gaya hidup orang lain. If it works for you, hey, it works, right? If it doesn’t work for me, then I guess I’ve gotta find something to change about it so that it works.

Kembali lagi ke cerita gue, bahwa gue stress. Lalu gue coba mengurangi waktu penggunaan elektronik. Sebagai gantinya gue pergi ke perpustakaan umum dekat rumah dan menjadi anggota disana. Gue mulai sering pinjam buku (buat gue dan buat anak gue juga). Salah satu hobi gue sejak kecil adalah baca buku, tapi udah sekitar 2 tahun terakhir gue kurang baca buku dan gue agak2 malu dengan hal tersebut. Dulu waktu anak baru lahir sih bisa pakai alasan, “Punya bayi baru lahir, repot, ngga ada waktu buat baca. Boro boro baca, mau pipis aja harus sambil bawa anak.”

Nah sekarang anaknya hampir 3 tahun, kalau pake alasan itu rasanya ngga afdol, hahaha. Anak gue sudah mulai bisa main sendiri, menghibur diri sendiri. Gue sering baca parenting blogs dan seringkali baca kutipan ini, “You’ll create children readers by being a reader yourself.”

Gue pengen banget anak gue suka baca buku seperti gue dan bapaknya. Kami berdua waktu kecil sama-sama kutu buku. Gue inget dulu kalau dikasih uang jajan ekstra pasti belinya buku. Jaman dulu gue suka komiknya Ryoko Ikeda, “Rose of Versailles”, terus seri detektif Jerman “STOP” dan karya karyanya Enid Blyton. Oh, juga komik komik Eropa dari Belgia (kebanyakan keluarannya Dupuis). Seperti “Isabella”, “Smurf”, dan yang paling sohor ya tentunya “Tintin” ya. Masih pada inget nggak?

Kalau sekarang ini gue banyak dapat referensi bacaan gue dari Goodreads. Ada teman2 yg punya akun di Goodreads juga? Kasih tahu gue dong user name nya, gue pengen add :D Mau tukeran rekomendasi buku. Belakangan ini gue tertarik baca buku2 dengan topik seputar kehidupan di Korea Utara.

Hal lain yang gue giatkan lagi selain membaca adalah melakukan kegiatan outdoor. Ya jujur aja kegiatan “outdoor” ini sih secara realistisnya artinya gue jalan jalan ke taman dekat rumah dan main di playground sama anak. Tapi belakangan ini gue sering ketemu sesama emak emak dan nambah kenalan baru. Kita juga sering ke taman taman lain, untuk coba playgroundnya. 

Tingkat kestressan gue berkurang sedikit sejak gue mengurangi banyaknya penggunaan elektronik. Walaupun gue masih merasa belum optimal, karena masih banyak lagi yg pingin gue rutini lagi, seperti olahraga misalnya. Tahun ini gue dan suami berniat mulai lari/jogging dan kami bertarget untuk setidaknya lari di satu maraton tahun ini. Ya karena ini udah bulan Maret dan kami belum mulai training, jadi mungkin golnya ikutan maraton di musim gugur/hampir akhir tahun kali ya. Hehehe.

Tahun ini kami juga memulai suatu tradisi baru bersama temen2 terdekat, tradisi ini kami sebut “dinner club”. Tiap bulan kita kumpul2 di rumah salah seorang teman, bergiliran tiap bulan. Yang punya rumah memutuskan tema makanan untuk dinnernya. Acaranya potluck. Berhubung dibanding kemaren kemaren dimana kami jarang ketemu satu sama lain karena semuanya pada banyak acara (acara apa juga padahal ga jelas :D ), dengan adanya dinner club ini bisa dipastikan semuanya bertemu setidaknya sebulan sekali.

Baiklah.. sekian dulu update dari gue. Malam ini kami akan pergi ke dinner club lagi, temanya pizza night. Kami ditugaskan bawa topping daging. Siang tadi kami mampir ke Italian market dekat rumah dan beli pepperoni, salsiccia sausage, dan prosciutto.

Have a great weekend ya teman teman.. dan bagi para penggemar The Hunger Games.. 6 more days and the wait is over!! :D

 

 

Cuaca

Gara gara baca postingannya mas Arman yg terakhir, gue jadi mellow dan kangen Indonesia. Gue salahkan dirimu, mas Arman, hahaha.

Bukan cuma soal makanan dan malnya. Yg terutama tentunya ya keluarga ya.  Kalo dibilang kangen, wah, itu understatement banget. Cuacanya juga. Apalagi musim dingin gini. Gue kalo musim dingin terkena Seasonal Affective Disorder (SAD), dan bawaannya jadi depresi dan sedih. Mau keluar rumah? Aih dinginnyoooo, aku tak tahan. Hari ini cuacanya -7 celcius aja bok.

Kalo di Indonesia, musim kemarau ama musim hujan, tetep bisa keluar rumah. Laper dan gak mau masak/ bosen makanan rumah? Tinggal jalan kaki cari jajanan terdekat. Duh, padahal dulu gue ga sabar ingin tinggal di negara empat musim, penasaran ngerasain salju. Sesudah ngerasain, rasanya ga papa deh ga ada salju. Refot. Mobil harus diseruk dulu dari sesaljuan, harus naburin garam ke daerah depan rumah biar ga kepleset kalo jalan, dan kalo nyetir harus super hati hati. Belon lagi baju bajuan harus berlapis lapis biar hangat.

Kalo udah dingin gini malas pergi. Kalo di musim2 yg lebih anget, keluarga kita sering banget keluar rumah dan melakukan aktifitas outdoor. Pokoknya di pol-in,setiap hari yg cuacanya enak pasti kita pergi, walau hanya ke taman deket rumah dan main bola ama anak aja. Kadang malah cuma duduk duduk aja di teras, barbekyu, atau sekedar nongkrong aja, ngeliatin anak main.

Musim dingin kali ini bisa dibilang cukup jinak dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Salju aja baru turun bulan lalu, itupun seipriiiit banget, ya bisa2 hampir ga dihitung deh. Salju benerannya baru minggu lalu. Tahun 2010 salju pertamanya bulan November tuh. Hari Senin kemaren cuacanya 62 F/16.7 C, dan mumpung suami libur karena hari Martin Luther King, kita langsung manfaatkan dan pergi keluar rumah. Pergi ke City museum yg ada arena main outdoornya, pergi ke playground di taman. Banyaak banget anak2 dan ortunya yg juga pada keluar. Semua orang disini sama, kalo ada hari yg cuacanya bagus di tengah tengah musim dingin, langsung keluar rumah dan memanfaatkan cuacanya. Soalnya disini terkenal dengan cuacanya yg tidak menentu. Hari ini anget, eh besoknya salju.

Apakah kejinakan musim dingin ini berhubungan dengan pemanasan global? Mungkin. Yang pasti eike tidak protes deh, silahkan… asal anget gue monggo2 aja. Eh tapi kasian yg tinggal di daerah tropis ya, mangkin panas jadinya.

Intinya.. soal cuaca ini lah yang sangat ngangenin. Gue kebayang di Indonesia, Natalnya bisa pake dress biasa, ga usah pake jaket/coat segala. Di sini Natal mesti pakai stoking kalo mau pake dress.. karena ribet suribet biasanya gue pake celana panjang aja. Biar sekalian anget. Nggak ada winter storm juga. Ahhhhh pokoknya ngangenin deh.

Tapi, walaupun cuaca disini udah mirip sama mood gue yg naik turun (hahaha ketauan gilanya :D ), gue tetep bersyukur gue bisa tinggal disini.Very grateful for this chance. Kalo diterusin keinginan memang ngga ada habisnya. Ntar mau pulang Indo lah, eh.. pas sampe disana, udah pasti dijamin akan kangen sini.

Salah satu yg gue harus gue perbaiki dari diri gue adalah belajar bahagia dengan hal hal sederhana yang biasa tidak kita anggap penting. Gue thankful dengan musim dingin.. karena jadi lebih sering ketemu temen temen, berhubung dingin, hiburannya ya kumpul2 di dalam rumah, haha. Karena musim dingin pula, kemesraan dengan suami lebih terjamin (kalo ada yg dibawah 17 tahun tutup matanya hayo) hahahaha. Anget angetan gituloooh. Nggak heran kan, banyak orang melahirkan di musim gugur? Hasilnya musim dingin tuh. :D

Winter, winter.. go away. Come again… never.