Ira Glass, on Marriage and the “No Escape Clause”

KURT BRAUNOHLER: I do have a theory now that if I do get married in the future, what I think I would want to do is have an agreement that, at the end of seven years, we have to get remarried in order for the marriage to continue. But at the end of seven years, it ends. And we can agree to get remarried or not get remarried.

IRA GLASS: Why?

KB: Because then I think you get to choose. And I think it would make the relationship stronger.

IG: ...I think actually one of the things that’s a comfort in marriage is that there isn’t a door at seven years, and so if something is messed up, in the short term, there’s a comfort of knowing, ‘well we made this commitment, so we’re just going to work this out. And even if tonight we’re not getting along, or there’s something between us that doesn’t feel right, you have the comfort of knowing, we’ve got time, we’re going to figure this out’. And that makes it so much easier. Because you do go through times where you hate eachother’s guts, and the no escape clause, weirdly, is a bigger comfort to being married than I ever would have thought before I got married.

(From NPR’s Valentine edition of This American Life).

This is one of the best, accurate depiction of marriage I’ve ever heard. Mr. Bubbles and I had a discussion about this last night and we both agree that Ira made a valid point.

Because let’s be real, marriage isn’t always peaches and cream. And the fact that, somehow, in so many words, when we made that vow “for better or worse”, we imply that we’re stuck with other for.. well, ever, so shouldn’t we always try to work it out?

Because being “stuck with each other forever” is actually a very, very good thing. Marriage to me is a lesson in humility, a lesson in selflessness, a lesson in communication,and  a lesson in efficiency. Because I chose Mr. Bubbles, and now we’re in a team and we’re bind by this “for better or worse” contract. Even if, truth be told, some days I feel like strangling the dude, but at the end of the day we insist on making shit work. Because, well..

if we’re going together in this long journey, might as well work well with each other and enjoy the ride.

What are your thoughts, blogger friends?

Window Shopping

Temen2 blogger,

Pada suka window shopping nggak? Beli sih engga, cuma liat liat doang. Sejak adanya internet dan menjamurnya toko toko online, kita nggak perlu pergi langsung ke mal atau toko untuk window shopping lagi, kan? Hal ini juga berbahaya buat para banci belanja, karena sekarang kalau mo beli apa apa, tinggal klik “add to cart” dan masukkin info pembayaran, and et voila! Barangpun terkirim dan kita tinggal ongkang ongkang kaki aja tunggu ketukan pintu dari Pak Pos/Mas Tiki/UPS guy.

Sebagai ibu rumah tangga yang bujetnya  terbatas, gue jarang belanja  (macam baju, sepatu, tas, kosmetik, dkk). Kalo sewaktu muda dulu sih (ini artinya gue bukan mengakui kalo gue tua ya), gue banci belanja. Sekarang, gue kalo belanja baju/barang2 utk diri sendiri tunggu kalo ada sale gede gedean, kayak Black Friday, atau ada kode diskon buat belanja online yang mantaf diskonnya (mantaf bagi cheapskate macam gue ini artinya di atas 25%). Gue juga suka belanja di thrift store/consignment store karena harganya yang oke dan kalo kita pinter dan sabar milihnya, bisa dapet barang yang bagus dan jangka hidupnya masih panjang. Sering gue ketemu baju yang masih ada tag-nya, dijual di thrift/consignment store. Belanja second hand itu ada tips dan triknya sendiri, dan ibu mertua gue yang dulu ngajarin gue gimana caranya. Asal jangan lupa dicuci yang bersih aja kalo baju.

Walaupun gue jarang belanja, tapi hobi window shopping gue masih tetep gue jabanin. Apalagi kalau bukan online window shopping! Sensasinya ya sama lah, mirip mirip sama window shopping beneran di mal. Seneng aja ngeliat barang bagus, ngebayangin, kalo beli barang ini nanti dipake ke mana, kapan dipakenya, dll. Kadang kadang online window shopping malah jadi semacam terapi buat gue. Kalo orang lain retail therapy (terapi  melalui belanja), gue online window shopping therapy aja. Beli sih nggak. Tapi seneng aja. Aneh kah? Mungkin.

Ada orang orang yang nggak suka window shopping, seperti suami gue contohnya. Menurut dia, window shopping itu bikin stress, apalagi kalo lagi bokek. Ngeliat semua barang yang kita pengenin, tapi nggak bisa beli. Kok masokisme banget aja gitu, bagi dia. Kalo gue pemikirannya bukan begitu. Sebelum window shopping, gue udah wanti wanti ke diri sendiri, “Mau ada uangnya atau enggak, ini hanya liat liat aja. Kecuali kalo lo tiba tiba menang lotere, nah itu lain cerita.”

😀

And it works! For me, at least. I’ve been doing window shopping for so long, I stopped feeling stressed out about things I can or can’t afford anymore. Bagi gue, window shopping itu adalah kesenangan tersendiri.

Dan juga, gue kalo window shopping bukan ngeliat situs situs toko yang mewah gitu macam Barneys atau merk merk terkenal (dan mahal aje) kayak LV, Balenciaga, Dior, Prada,etc. Gue window shoppingnya di toko toko biasa aja, dan yang harganya masih terjangkau. Favorit gue macam ASOS, Shopsosie, ShopRuche, Lulu’s, Modcloth, malah juga gue sering liat2 di Forever21, Old Navy online, Target, dll.

Keuntungan dari online window shopping adalah.. gue bisa bikin wishlist! Hehehe. Kenapa ini gue sebut keuntungan? Karena kalo menjelang Natal/ultah, biasanya keluarga atau teman suka nanya, lo mau hadiah apa nih? Biasanya sih (jaim dulu pertamanya) gue bilang, ah nggak mau apa apa kok. Tapi mereka pasti akan terus nanya, nah.. baru deh jaimnya ilang dan gue malu malu (padahal ga tau malu sebenernya) bilang, gue punya wishlist kok. Terus pasti mereka minta liat. Hihihihihhh. Kalo lagi hoki, dapet tuh biasanya kado dari wishlist. Ya ngga semuanya ya. Dapetnya paling satu, dua. Tapi gue berterima kasih banget.

Hahaha. Muka tebalkah eike? Maybe. But admit it, isn’t it a nice perk, though? 😉

Kalo temen temen sendiri gimana.. pada suka window shopping juga? Kenapa? kalo engga, kenapa?

Have a great day, folks! Smile at someone and you might make their day today. 🙂

Terkadang..

(warning : a very emo post. If you don’t feel like emo today, skip ahead).

Gue mikir.. kalo jadi istri orang di negara asing itu nggak nyamannya banyak ya.

Kalo berantem sama suami, kalo berantem sama tetangga, kalo ada stress inilah, itulah.. nggak bisa gampang aja nyetir pulang ke rumah ortu untuk mendinginkan pikiran.

“Pulang ke rumah” itu artinya bayar tiket yang mahal, perjalanan jauh.

Gue ini orangnya termasuk jarang homesick.. tapi terkadang, kalo lagi banyak stress, rasanya pengen drop everything, pack my bags dan pulang ke rumah. Ke Indonesia.

Asalnya kami ada rencana pulang tahun depan.. tapi belakangan ini kami berubah rencana jangka panjang (berkaitan dengan rumah). Jadi kayaknya.. kami nggak bisa mudik tahun depan.

Sedihhhhhhh. Tahun 2014 kali baru pulang. Berarti udah 10 tahun sejak gue nggak pulang. Satu dekade.

Gue sering mikir, Jakarta sekarang kayak apa ya? Kalo orang ngomongin “Pacific Place” lah, atau nama mal apalah yang dulu belom ada saat gue disana.. gue ngerasa, wah.. Indonesia udah berubah banyak.

My country’s changing without me in it. Life goes on. And somehow it feels a little sad.

Sering gue mikir, sebenarnya setiap kali gue bilang “rumah”, rumah itu yang mana sih? Rumah itu di mana sih? Apakah rumah gue disini? I spent most of my adulthood here. Tapi setiap kali gue berpikir seperti itu, my heart won’t agree to it.

Home is in Indonesia. It was, it is. It has been.

And it will always be.

no matter how many years I’ve been away.

Life Recently, Through Pictures

Belakangan ini, setiap kali gue mulai ngetik post baru, pasti di tengah jalan mulai tersendat sendat. Inspirasi nulisnya hilang aja gitu. Bisa dibilang gue lagi terkena blogger’s block kali ya? Ide sih ada, tapi males aja nulisnya. Jadinya yang ada draft aja numpuk.

Tapi supaya blog ini nggak berdebu, gue tetep mau posting. Kali ini yang simpel aja deh.. melalui foto. Kualitas fotonya nggak oke, mohon maaf ya pemirsa, soalnya ini diambil pake kamera handphone. Hehehe.

So.. what’s up with Bubbles lately? Let’s see:

Ini foto Baby Bubbles di mulut badak, hehehe. Minggu lalu kami pergi ke kebun binatang. Di sana ada area bermain untuk anak anak, dan salah satu atraksinya ya si badak ini. Gimana caranya masuk ke dalam si badak? Ada lubang yang lokasinya di perut si badak bagian bawah. Jadi kayak terowongan kecil gitu. Anak gue yang maniak sama segala jenis terowongan langsung kegirangan. Berkali kali keluar masuk si badak. Oh ya, teman2 yang punya krucil, krucilnya punya comfort toy-ngga? Mainan yang dibawa kemana mana, kalo tidur harus nemenin dia. Nah, anak gue comfort toy nya boneka badak. Namanya “Mr. Hippo”. Saking sayangnya sama Mr Hippo, kalo pergi main ke taman juga harus dibawa lho!

Nah ini Baby Bubbles dan Mr. Bubbles lagi naik karusel di kebun binatang juga. Karuselnya lucu deh, karena semua binatang2 yg ada di karusel itu adalah semua binatang yang dipelihara di kebun binatang tersebut. Setiap kali kita ke kebun binatang dan lewat karusel, anak gue selalu minta naik karusel. Dua minggu lalu kami putuskan untuk beli membership di kebun binatang. Harganya terjangkau banget, dan bisa naik semua atraksi dengan gratis (non-member harus bayar tiket). Di kebun binatang ini juga ada kereta apinya. Seru deh. Ayo, siapa yang mau jalan jalan ke St. Louis, nanti kita kesini bareng! 😀

Beberapa minggu lalu, kami berkunjung ke rumah temen dekat yang agak agak jauh. Kota dimana mereka tinggal sekitar 45 menit di luar kota kami, jadi nggak bisa sering sering kesana. Mereka tinggal di kota kecil, dan punya halaman yang luas. Itu area serodotan/ayunannya dibangun sendiri loh sama temen kita. Suami gue bantuin juga. Rumah kami halaman belakangnya kecil banget, dan nggak ada rumputnya, jadi kami seneng banget setiap berkunjung kesana karena Baby Bubbles bisa bebas lari larian di halaman dan main serodotan/ayunan. Kebetulan saat itu juga udaranya lagi enak dan hangat sekali. Agak agak aneh untuk musim semi, biasanya masih dingin tapi waktu itu rasanya udah mirip musim panas. Jadi gue pun bisa menikmati duduk duduk di halaman belakang mereka. Setelah punya anak, rasanya kami makin menghargai pentingnya halaman dan alam. Cita cita sih pengen beli tanah di kota yang lebih kecil (biar murah) dan bangun rumah sendiri. Pengen tinggal di tempat yang lega, luas, banyak pohonnya. Nabung dulu deh untuk sementara..

Ini kejadiannya di tempat temen tersebut. Si baby Bubbles tiba tiba nggak kedengeran suaranya, sibuk main sendiri di ruang depan rumah mereka. Terus terdengar “Mama.. help! Stuck!” Langsung gue hampiri. Eh.. ternyata dia ngurung dirinya sendiri di kursi rotan ini. Ini sebetulnya kursi, tapi nggak ada cushionnya. Lagi dicuci kalo nggak salah. Sebelum gue bebaskan dari kurungannya.. gue foto dulu. Hihihi. Tega ya gue.

So Mr. Bubbles got himself a sweet new gig at this awesome financial corporation. Nah, untuk merayakan, kami putuskan untuk mengadakan.. korean BBQ! Idenya tercetus waktu gue dan temen deket gue T lagi ngobrol tentang makanan yang lagi diidam-idamkan #pardonmycheesy. Kita sama sama pecinta Korean BBQ, dan kalo makannya di restoran tuh mahal aje.. jadi diputuskan, gimana kalo bikin sendiri aja? Kebetulan pas ada momen yang bisa dirayain, hehehe. Dua minggu lalu di hari Minggu, T dan gue pergi belanja ke supermarket internasional dan sepulang kerumah, langsung deh mulai masak-masak persiapannya. Yang bikin Korean BBQ spesial itu ya banchan (side dishes)nya. Sebisa mungkin kami pengen buat sama seperti yang di restoran. Langsung gue konsultasi dengan situs resep Korea yang terbukti oke (and my favorite!).. maangchi! Resep2nya mantap bok! Ada juga dua situs lain yang resepnya patut diacung jempol : aeriskitchen dan hannaone. Buat temen2 yang suka makan Korean BBQ, coba deh bikin sendiri dirumah.  Bagi yang ga bisa makan ba, bisa diganti dengan beef aja. Ayam juga enak deh kayaknya. Asal punya alat panggangannya aja. Kebetulan temen gue si T punya, dia bawa dari kampung halamannya (Jepang) waktu dia pindah ke sini. Menurut doi sih, beli di internet juga bisa loh, harganya sekitar $100-an. Not too bad, kan?

Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya, gue ini pecandu kuteks. Warna kuteks gue biasanya gue sesuaikan dengan mood, holiday, atau musim. Di musim dingin gue cenderung pilih warna yang gelap.. kayak biru tua, abu abu, marun, ungu. Di musim semi/panas, gue cenderung pilih warna yang gonjreng alias neon.. kayaknya cocok aja dan pas dengan moodnya. Kadang disesuaikan juga dengan holiday terdekat.. misalnya untuk Halloween gue pake kuteks oranye. Valentine’s day pake pink. Untuk Natal, merah dan perak. Nah karena kemarin ini sempet ada semingguan dimana udaranya panas banget serasa musim panas, gue langsung terinspirasi untuk pake kuteks neon. Hijau dan kuning bok, kayak bendera Brasil aja ya, hehehe.

Nah, kalo ini foto baby Bubbles dan salah satu teman mainnya di playground, si R. Sejak udara mulai menghangat, kami pasti setiap hari pergi ke playground. Si R ini selalu datang ke playground setiap hari Rabu sama dua adiknya, Nenek dan Kakeknya. Umurnya 4 tahun, dan dia dewasa banget, selalu ngayom yang lebih kecil dari dia. Baby Bubbles dan R ini sohiban, selalu main bareng, dan si R ini sabar dan perhatian banget sama dia. Lucu ya?

Sebelum Mr. Bubbles mulai pekerjaan barunya (di hari Senin kemarin), dia sempet dirumah. Mr. Bubbles ini orangnya workaholic. Selain kerjaan utamanya, dia juga nyambi ngajar di perguruan tinggi teknologi lokal. Sekarang dia juga lagi memulai kuliah S2. Di dalam profesinya dia, mempunyai sertifikat itu hampir wajib hukumnya. Semakin banyak sertifikat yang dia punyai, semakin banyak kesempatan untuk kariernya berkembang. Sudah berbulan bulan ini dia kerjanya belajar untuk sertifikat dan ambil sertifikat. Dia ini selalu sibuk, makanya gue senang banget kami sempat menghabiskan waktu banyak. Walaupun itu cuma dirumah aja, misalnya nonton tv barengan sambil unyel unyelan di sofa seperti di foto ini, rasanya bahagia banget!

So, that’s how life’s been around these parts. Hope you guys have been having such great time as well! Until next time.