On Names and Strange Quirks

Today I met two little sisters at the playground named Summer and Skylar (her mama called her “SkySky”, which I just find so adorable). I love those names! Sure, they sound a bit hippie-esque, but ain’t nothin’ wrong with a lil’ bit of hippie, amirite? I mean, the hippies love peace and I consider peace to be a valuable life norm, for what its worth.

So I went to google “Skylar”, and as it turns out it’s Dutch for scholar. How awesome.

This whole name researching biznass got me looking into more baby names. Nope friends, I am by no means pregnant. 😀 I just like looking at baby names. Is it strange? Sure. Everyone has their quirky lil’ perk, right? 😀

Skylar Avery. What do you think of this name ? I mean, I don’t plan on getting knocked up again anytime soon (or ever, to be honest, but never say never, right? 😀 )

Also, I think of an Indonesian name for my second future hypothetical child. (Baby Bubbles has a very Western name, because his dad and I agree that he got to name the baby if it were a boy and I’ll get to name the baby if it were a girl, so by all accounts he won, hahaha.) So far I have only come up with  girls names. Kirana. I’ve always loved the name Kirana. Maybe it’s because I was a big fan of the oldies Dewa 19’s song Kirana? hahaha.

And Larasati. Because it’s my sister’s name and I adore my sissy like nothin’ else. She’s one of my most favorite people.

But Kirana Larasati? My mother said it’s the name of a certain bintang sinetron and she said please I would really like my future granddaughter not to be named after a bintang sinetron? She even used the word PLEASE which she very rarely uses with her kids, hahaha.

What about you guys? Any names you like for your future hypothetical babies? Are you guys weirdos like me who like to stalk baby names on the internet too? Please tell me I’m not the only one.

😀

Japanophile

Bagi teman teman yang sempet baca bagian “who’s bubbles?”, pasti udah baca kalau gue ini Japanophile. Gue suka banget sama Jepang. Kebudayaannya, bahasanya (walau ga bisa.. ini maksudnya kagum gitu), tempatnya, pemandangannya, literaturnya, gaya hidupnya, teknologinya.. dan yang paling gue gemari adalah.. J-pop culture. Satu satunya sahabat gue disini adalah orang Jepang. (Ini bukannya pilih teman ya, tapi memang secara kebetulan doi-lah yang paling cucok sama gue dan ngobrol nya nyambung, banyak kesamaannya sama gue, dan orangnya sifatnya cukup mirip gue.)

Bagaimanakah asal usulnya sehingga gue menjadi maniak segala sesuatu yang berbau Jepang?

Waktu kecil dulu, seperti banyak anak Indonesia seumur gue di zamannya, gue penggemar komik Jepang. Bahkan gue mengoleksi komik2 tersebut. Candy Candy, Akira, Rose of Versailles (this one’s my absolute favorite), Eroica, Jendela Orpheus, Throbbing Tonight, Detective Conan dan Crayon Sinchan. Kayaknya masih ada beberapa serian lain lagi, tapi gue lupa. Drama seri anak anak favorit gue apalagi kalau bukan Doraemon. Gue masih inget, Doraemon ditayangkan di RCTI setiap hari Minggu pagi… jam 8 ya kalo ga salah? Ini di sekitar 1990an gitu.

Sejak suka baca komik2 tersebut, gue selalu punya ketertarikan sendiri terhadap kebudayaan Jepang. Bagi gue, Jepang itu kok kayaknya keren banget, orang orangnya artistik dan pastinya kece abis (bayangan gue dulu orang Jepang itu pasti mukanya mirip seperti yg di komik).

Bokap Nyokap gue dulu pernah tinggal di Sudanuma, di prefektur Chiba selama 2 tahun. Ini sewaktu gue masih 2 tahun umurnya. Bokap kuliah bahasa di Jepang. Gue nggak ikut, melainkan dititipkan ke Yangti&Yangkung gue. Tapi gue pernah ikut jenguk mereka selama beberapa bulan. Gue dibawa ke Tokyo Disneyland.. ya jelas memori gue belum jelas saat itu, namapun masih priyik gitu. Cuma setelah gue gedean, gue sering dikasih lihat foto2 dari liburan gue ke Jepang tersebut. Sejak kecil aja ortu gue selalu ngomongin tentang masa mereka hidup di Jepang. Nyokap gue sering cerita tentang beliau dulu kerja part time di toko roti, naik sepeda, waktu masih hamil adik gue. Mereka sering bernostalgia tentang masa masa Jepang mereka, they always said they loved it there, and would love to come back someday. Sampai sekarang, nyokap gue masih seorang pengagum budaya Jepang. Nyokap gue selalu bilang kalau etis kerja orang Jepang itu patut dicontoh, dan kebudayaan kolektivis mereka itu ideal. (sejak gue tinggal disini dan mengadopsi beberapa nilai moral kebudayaan barat seperti individualisme, topik ini sering menjadi topik diskusi/argumen di antara kami berdua. Tapi ini cerita lain untuk post di lain waktu. :)).

Lalu, di saat gue SD kelas 3 atau 4 gue lupa, Eyang Putri & Kakung (Kakek& Nenek dalam budaya Jawa) gue menjadi host family dari sebuah program pertukaran pelajar. Anak hostnya adalah orang Jepang, namanya tante Eriko. (harap diingat gue masih priyik jadi harus panggil dia ‘tante’) Gue inget kalo gue dan adik gue kagum banget sama tante Eriko. Orangnya cantik, bajunya anggun anggun, kalau ngomong juga halus sekali, sopan dan bener2 ladylike banget. Ortunya tante Eriko dan Eyang-eyang gue menjadi teman baik di kemudian hari setelah pertukaran pelajar tersebut. Lalu saat tante gue menikah, tante Eriko datang ke semua acara pernikahannya (gue inget totalnya 3 hari.. acara adat, sakramen nikah dan resepsi), dan dia pakai kimono ke semua acara tersebut. Kimononya cantik banget, gue yg dulu belom pernah ngeliat baju adat dari negara lain langsung tersepona.

Pada intinya, I have every reason to be a Japanophile ever since I was a tiny young sprout. And that’s exactly what I turned out to be.

Puncak kemaniakan gue terhadap budaya Jepang tejadi 5 tahun yang lalu, saat gue menemukan boyband Jepang benama… Arashi. Awalnya gue lagi iseng nonton dorama berjudul “Yamada Taro Monogatari”, dibintangi oleh Kazunari Ninomiya dan Sho Sakurai, keduanya anggota dari grup boyband tersebut. Gue kesengsem sama Sho Sakurai, dan langsung gugel infonya. Sejak saat itu gue jadi tahu tentang Arashi. Iseng isenglah gue dengerin beberapa lagu mereka. Cheesy? Sudah pastilah nek, namanya pun boyband. Jangan harapkan kualitas musik yang maknyus. Setelah pencarian yang cukup ekstensif melalui gugel dan situs situs lainnya, gue temukan kalau Arashi ini punya beberapa acara tv yang mereka bintangi. Acara acara ini disebut variety show. Lucu dan sarat info tentang budaya Jepang.

Gue juga jadi sering nonton dorama yang dibintangi para personil Arashi. Yang paling sohor kayaknya “Hana Yori Dango”  deh. (Meteor Gardennya Jepang). Walau bagi gue, F4 versi Jepang masih kalah ganteng dan macho kalo dibanding sama F4nya Korea ataupun Taiwan. Keknya F4 Jepang agak2 terlalu menye menye, ke cewekan gitu deh. Bandingkanlah dengan Vanness Wu atau Lee Min Ho yang macho gitu. Tapi buat gue, Makino versi Jepang itu nomor satu. San Chai sama Geum Jan Di minggir deh.. hehehe.

Sejak sering nge-dorama, selera gue pun mulai melebar. Lama lama gue nggak cuma nonton dorama yang dibintangi personil Arashi aja. Dari dorama dan film film Jepang gue belajar makin banyak tentang budaya Jepang. Drama Jepang bagi gue pas, nggak terlalu panjang kayak drama Korea (walaupun kalo ada K-drama yg bagus gue nggak keberatan nonton walaupun panjangnya ajubile).

Suami gue Mr. Bubbles, adalah veteran dari Angkatan Laut Amerika Serikat. Dulu dia ditempatkan di base di Yokosuka, Jepang selama 4 tahun. Mr. Bubbles ini juga Japanophile.. penggemar manga, anime, buku2 literatur Jepang dan kebudayaan Jepang. (malah sempet pacaran sama orang Jepang juga dulu, hihihi) Karena sesama Japanophile juga, inilah salah satu hal yang membuat gue nyambung sama dia.

Yang paling tragis dari nasib gue sebagai Japanophile (#hueeekksss #LEBAYABIS) adalah.. gue belom pernah ke Jepang sebagai orang dewasa! Jadi satu satunya kunjungan gue ke negara impian itu ya waktu gue masih kecil priyiks itu. Sempet transit di Jepang, tapi cuma di bandara aja, nggak kemana mana. Semoga dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, gue sekeluarga bisa mampir untuk liburan. Walau hanya bentar aja, gue pasti seneng banget.

Sebagai Japanophile, salah satu hal utama adalah tentunya kesukaan terhadap makanan Jepang. Makanan Jepang kesukaan gue adalah kareiraisu (rice curry). Kare Jepang ini rasanya bener2 creamy, nggak terlalu penuh rempah rempah.. dan terkadang suka dipakein keju.. bikin rasanya makin mantap abis. Di kota gue ini sayangnya nggak ada satupun restoran Jepang yang menyajikan kare dalam menunya. Sementara di Indonesia aja udah bejibun banget restoran kare Jepang. Hiks. Jadi iri. Biasanya ya gue bikin sendiri aja, beli blok kare nya di toko Asia. Yang kedua dan standar abis adalah sushi. Di Amerika sini sepertinya mereka mengadaptasi konsep sushi, biar lebih cocok sama lidah bule. Ada sushi yang digoreng macam tempura gitu. Maklumlah orang buleleng sini kan demen apa apa yang digoreng dan berminyak 😀

Gue juga suka banget sama ramen. Tapi, lagi-lagi, sayangnya di kota eike ini nggak ada resto Jepang yang menyajikan ramen. Kabarnya sih dulu ada, tapi restorannya tutup. Mr. Bubbles ini penggemar berat ramen. Sampai dulu kami pernah coba coba bikin ramen sendiri, tapi rasanya yah… gitu deh. Enak sih enak, tapi nggak ada mirip2nya sama yang dia coba di Jepang dulu katanya. Hehehehe. Kunci kesuksesan ramen kan berada di kuahnya. Harus buat kaldu sendiri endeswey endesbre. Jadi, biasanya kalau kami bener2 ngidam kare, kami pergi ke Chicago (sekitar 5 jam nyupir dari sini) dan makan ramen. Serunya, kami akan ke Chicago lagi minggu depan! hihihihi. Sebetulnya tujuannya sih sederhana aja, yaitu mau buat paspor Indonesia untuk Baby Bubbles di Konjen. Tapi sekalian mumpung ke sana, iya kan? Sayang, udah cape2 nyetir dan bayar bensin mahal… mending sekalian mampir makan ramen. Hehehehe.

Begitulah cerita gue dan kemaniakan gue dengan Jepang. Teman teman sendiri gimana, adakah satu hal yang kalian sukai banget? Please do share!

Have a great day, all!

Window Shopping

Temen2 blogger,

Pada suka window shopping nggak? Beli sih engga, cuma liat liat doang. Sejak adanya internet dan menjamurnya toko toko online, kita nggak perlu pergi langsung ke mal atau toko untuk window shopping lagi, kan? Hal ini juga berbahaya buat para banci belanja, karena sekarang kalau mo beli apa apa, tinggal klik “add to cart” dan masukkin info pembayaran, and et voila! Barangpun terkirim dan kita tinggal ongkang ongkang kaki aja tunggu ketukan pintu dari Pak Pos/Mas Tiki/UPS guy.

Sebagai ibu rumah tangga yang bujetnya  terbatas, gue jarang belanja  (macam baju, sepatu, tas, kosmetik, dkk). Kalo sewaktu muda dulu sih (ini artinya gue bukan mengakui kalo gue tua ya), gue banci belanja. Sekarang, gue kalo belanja baju/barang2 utk diri sendiri tunggu kalo ada sale gede gedean, kayak Black Friday, atau ada kode diskon buat belanja online yang mantaf diskonnya (mantaf bagi cheapskate macam gue ini artinya di atas 25%). Gue juga suka belanja di thrift store/consignment store karena harganya yang oke dan kalo kita pinter dan sabar milihnya, bisa dapet barang yang bagus dan jangka hidupnya masih panjang. Sering gue ketemu baju yang masih ada tag-nya, dijual di thrift/consignment store. Belanja second hand itu ada tips dan triknya sendiri, dan ibu mertua gue yang dulu ngajarin gue gimana caranya. Asal jangan lupa dicuci yang bersih aja kalo baju.

Walaupun gue jarang belanja, tapi hobi window shopping gue masih tetep gue jabanin. Apalagi kalau bukan online window shopping! Sensasinya ya sama lah, mirip mirip sama window shopping beneran di mal. Seneng aja ngeliat barang bagus, ngebayangin, kalo beli barang ini nanti dipake ke mana, kapan dipakenya, dll. Kadang kadang online window shopping malah jadi semacam terapi buat gue. Kalo orang lain retail therapy (terapi  melalui belanja), gue online window shopping therapy aja. Beli sih nggak. Tapi seneng aja. Aneh kah? Mungkin.

Ada orang orang yang nggak suka window shopping, seperti suami gue contohnya. Menurut dia, window shopping itu bikin stress, apalagi kalo lagi bokek. Ngeliat semua barang yang kita pengenin, tapi nggak bisa beli. Kok masokisme banget aja gitu, bagi dia. Kalo gue pemikirannya bukan begitu. Sebelum window shopping, gue udah wanti wanti ke diri sendiri, “Mau ada uangnya atau enggak, ini hanya liat liat aja. Kecuali kalo lo tiba tiba menang lotere, nah itu lain cerita.”

😀

And it works! For me, at least. I’ve been doing window shopping for so long, I stopped feeling stressed out about things I can or can’t afford anymore. Bagi gue, window shopping itu adalah kesenangan tersendiri.

Dan juga, gue kalo window shopping bukan ngeliat situs situs toko yang mewah gitu macam Barneys atau merk merk terkenal (dan mahal aje) kayak LV, Balenciaga, Dior, Prada,etc. Gue window shoppingnya di toko toko biasa aja, dan yang harganya masih terjangkau. Favorit gue macam ASOS, Shopsosie, ShopRuche, Lulu’s, Modcloth, malah juga gue sering liat2 di Forever21, Old Navy online, Target, dll.

Keuntungan dari online window shopping adalah.. gue bisa bikin wishlist! Hehehe. Kenapa ini gue sebut keuntungan? Karena kalo menjelang Natal/ultah, biasanya keluarga atau teman suka nanya, lo mau hadiah apa nih? Biasanya sih (jaim dulu pertamanya) gue bilang, ah nggak mau apa apa kok. Tapi mereka pasti akan terus nanya, nah.. baru deh jaimnya ilang dan gue malu malu (padahal ga tau malu sebenernya) bilang, gue punya wishlist kok. Terus pasti mereka minta liat. Hihihihihhh. Kalo lagi hoki, dapet tuh biasanya kado dari wishlist. Ya ngga semuanya ya. Dapetnya paling satu, dua. Tapi gue berterima kasih banget.

Hahaha. Muka tebalkah eike? Maybe. But admit it, isn’t it a nice perk, though? 😉

Kalo temen temen sendiri gimana.. pada suka window shopping juga? Kenapa? kalo engga, kenapa?

Have a great day, folks! Smile at someone and you might make their day today. 🙂