The story of Aki and the neighbors’ dogs

Perkenalkan Aki, papa mertua gue. Aki ini umurnya separuh baya. Panggilan Aki ini dikasih oleh Mama gue untuk sang besannya ini. Mama gue kan orang Sunda tulen, dalam bahasa Sunda, Aki itu adalah panggilan untuk kakek. Sebutan Aki ini juga berfungsi sebagai bahasa kode kami bertiga (gue, Mama & adik) pada saat kita membahas doi di musim panas kemarin dimana Mama dan adik gue liburan kesini. Perlu dicatat, bahwa Mama nggak panggil si Aki itu “Aki” pada saat ngomong langsung ke orangnya, ya. Hehehe. (Mama panggil namanya aja biasanya).

Aki tinggal bersama gue, Suami, dan Baby Bubbles. Aki ini kalau di Amrik sini tipe-tipenya bisa digolongkan sebagai seorang “hippie”. Profesi Aki adalah tukang kayu dan tukang bangunan. Cita cita Aki untuk hari tuanya adalah membuka bed & breakfast di pegunugan di negara bagian Colorado, karena Colorado adalah tempat favorit dia. Kekurangan si Aki adalah.. tidak pintar manajemen finansial. Sampai pada akhirnya Aki bangkrut dan harus tinggal bersama satu-satunya anaknya, yaitu Suami. (Aki sudah bercerai dari mertua perempuan gue, Ibunya si Suami).

Gue ini bukan tipe menantu yang rese sama mertua. Dan sebelum Aki pindah ke rumah kita, gue berharap harap cemas bahwa si Aki ini tidak akan menjadi tipe mertua rese. Gue tergolong cuek. Asalkan Aki nggak jorok ataupun sok kuasa, gue cuek aja.  Prinsip gue kita saling menghargai, saling menyayangi, namanya juga keluarga. Di awal-awal waktu Aki pindah kesini, sepertinya Aki terkena depresi. Dia sedih karena merasa impian masa tuanya buyar karena kebangkrutannya. Tapi Aki walaupun sedih gitu kebanyakan hanya diam saja atau menyibukkan diri dengan ikut grup-grup pecinta lingkungan (Aki juga seorang aktivis pembela hak lingkungan) dan cari teman. Aki pun suka bantu bantu membetulkan segala macem masalah di sekitar rumah.

Lalu Aki pun mulai berteman di sekitar daerah rumah kita. Salah satu teman Aki adalah tetangga kita Pak S, rumahnya dua rumah ke sebelah kanan kita. Pak S ini orangnya cukup ramah dan hobinya ngobrol2 sama tetangga (dibaca : gosip). Pak S ini juga punya 2 anjing jantan, jenisnya basset hound dan beagle. Bagi para pecinta anjing, tentunya udah tau kalau beagle ini suara gonggongannya mantap dan sangat berisik. Apalagi kalau tidak terlatih, si beagle ini biasanya akan menggonggong terus, biasanya kalau ada orang lewat, ada binatang lain lewat, ada suara sirene, bahkan terkadang hanya suara angin bertiup aja dia akan gonggong. Nggak cuman si beagle, basset houndnya juga sama.

Intinya, dua  anjingnya Pak S ini sangatlah tidak terlatih dan selalu menggonggong. Dan Aki sangat tidak suka dengan suara gonggongan anjing. Dia lebih tidak suka lagi dengan anjing yang tidak terlatih. Dalam pikiran si Aki, kalau orang mengadopsi binatang peliharaan itu seperti punya anak sendiri, harus dilatih dan disayang. Jangan dicuekin aja, karena binatang juga punya perasaan seperti manusia. Dan jangan sampai karena kecuekan kita sebagai orangtua si binatang, mereka jadi mengganggu ketenangan hidup bertetangga.

Aki sering banget teriak “shut up!” kepada si dua anjing bawel ini kalau dia pas kebetulan lewat halaman belakang kita dan digonggong oleh duo anjing bawel. Memang kok kayaknya tidak anggun banget ya, kenapa harus teriak2 begitu. Aki pernah berantem pula sama istrinya Pak S. Waktu itu Aki sedang mengecat teras belakang kita dan duo anjing bawel nggak henti hentinya menggonggongi dia. Karena Aki kesal, lalu dia bawa keluar sebuah radio, pasang ke stasiun favoritnya, dan volumenya dikencangkan sampai pol. Istrinya Pak S tanya, “bisa nggak sih volume radionya diturunkan, saya jadi nggak bisa buka jendela nih.” Lalu si Aki membalas, “bisa nggak anjing situ volumenya diturunkan?” Istrinya Pak S bersungut sungut kesal, dan bilang “Saya nggak bisa berbuat apa-apa soal anjing saya, tapi saya bisa berbuat sesuatu menyangkut Anda!” (diterjemahkan : dia akan nelpon polisi. Orang sini apa-apa telpon polisi soalnya). Si Aki pun membalas dengan cueknya, ” Silahkan aja telpon polisi.” 

Ternyata itu cuma ancaman kosong aja. Istrinya Pak S nggak telpon polisi sama sekali. Sejak saat itulah hubungan suami istri S dan Aki pun berangsur angsur memburuk.

Tentangga sebelah kanan kita, Pak T, kebetulan beberapa bulan sesudah terjadinya argumen itu, pindah rumah. Rumahnya kosong selama beberapa bulan sampai tetangga baru pindah. Tentangga barunya ini kebetulan adalah keponakannya sendiri, mari kita sebut Mbak Suster (lagi-lagi panggilan sayang dari nyokap gue. Waktu nyokap tanya apa profesinya gue bilang, dia lobotomist, kerja di rumah sakit. Bukan suster. Tapi Mama cuek aja dan sejak saat itu selalu nyebut dia Mbak Suster).

Pada saat awal-awal Mbak Suster pindah ke rumah sebelah, dia punya satu anjing, kurang jelas jenisnya apa. Tapi anjingnya ini sangat terlatih, kalem dan tidak suka gonggong. Mbak Suster dan Pak S ini adalah sohib banget. Mereka sering kongkow kongkow di depan rumah, pokoknya bener2 akrab banget deh.

Suatu hari, terjadilah argumen antara Aki dan nenek tetangga dirumah sebelah kiri kita, kita sebut si Oma (lagi-lagi, panggilan dari Nyokap gue, hahaha). Aki menghardik anjing si Oma yang biasanya terlatih dan tidak suka gonggong, tapi kebetulan hari itu gonggong, dan si Oma pun jadi kesel dibuatnya, lalu Oma teriak balik ke si Aki. Menurut cerita dari dua belah pihak yang gue denger, terjadilah pertukaran kata-kata dari kamus kebun binatang. Pokoknya… sangat memalukan. Memprihatinkan.

Gue biasanya cukup cuek, maksud gue, itu urusan si Aki gitu, gue tidak mau ikut campur. Gue sendiri sih nggak pernah bermasalah soal anjing, biasanya gue cuekin aja. Dulu dirumah gue di Bogor kita punya tetangga yang pelihara beberapa anjing dan sering menggonggong, jadi gue terbiasa.

Tapi sejak saat dia berantem dengan si Oma gue mulai perduli. Karena.. Oma ini umurnya hampir 80 tahun, pemirsa. Mana pantes si Aki yang secara umur pantas jadi anaknya Oma teriak2 seperti itu ke beliau? Lagipula sejak  sebelum Aki pindah bersama kita, gue dan suami itu sayang banget sama si Oma, begitu pula sebaliknya. Oma suka kasih kue, suka kasih Baby Bubbles treats, sering ngajak ngobrol dan suka ngingetin tentang berbagai hal2 yang perlu kita perhatikan menyangkut kehidupan di lingkungan ini. Oma sudah tinggal di rumah sebelah itu lebih dari 50 tahun lamanya.

Gue tegurlah si Aki secara sopan dan baik-baik, gue bilang tolong dong Ki, jangan berteriak gitu sama Oma yang udah sepuh. Nggak pantas. Kalaupun Aki ada masalah sama tetangga, coba omongin aja ke kita dulu, biar kita aja yang handle ke tetangga. (Karena udah jelas, si Aki ini kurang mengerti gimana caranya berkomunikasi yang baik dan efektif). Aki nggak perduli, katanya. Ya udahlah, gue juga nggak mau ribut sama mertua yang tinggal sama sama serumah.

Gue minta maaf ke Oma. Oma bilang nggak usah kamu minta maaf, itu kan bukan salah kamu. Tapi gue tau sebetulnya Oma masih kesel, karena dia pasti harapannya ya si Aki yang minta maaf ke dia.

Nah si Oma cerita ke Pak S. Pak S jadi ikutan kesel, lalu dia cerita ke Mbak Suster. Pokoknya karena si Aki, kita semua jadi disebelin oleh tetangga. Betulan deh, nila setitik, rusak susu sebelanga.

Nggak lama setelah itu, Mbak Suster adopsi anjing keduanya. Anjingnya yang kedua ini sifatnya mirip dengan duo anjing bawelnya Pak S. Dan yang lebih kacrut lagi, anjingnya yang suka gonggong ini dikeluarkan jam 5 pagi, karena dia harus berangkat kerja jam 5.30 pagi!

Gue dan suami setiap pagi bangunnya jam 5:45, kita pasang alarm. Terbayanglah kekesalan kita saat kita dibangunkan secara paksa oleh gonggongan si anjing bawel ini. Suami gue nulis surat ke Mbak Suster yang dia drop di kotak suratnya. Mbak Susterpun tersinggung, entah kenapa, padahal kata2 yang Suami pergunakan di surat itu sopan sekali. Dia makin menjadi jadi dan anjingnya ditinggalkan semalaman di luar, gonggong dengan kerasnya.

Suatu hari, Suami gue udah nggak tahan lagi, dia merasa kayaknya Mbak Suster ini nyolotin kita. Diapun nyamperin mbak Suster, dan terjadilah argumen. Suami gue bilang bahwa peraturan kota adalah diantara jam 10:30 malam sampai jam 7 pagi, ketenangan itu wajib. Mbak Suster nggak terima. Suami gue bilang, kalau ini terjadi lagi, kita akan telpon polisi. Mbak Suster bilang, silahkan aja, saya akan laporkan mereka tentang mobil kamu!

Nah loh.. ada cerita lagi nih sodara sodara, soal si mobil. Suami gue sempet punya mobil antik, tahun 1970-an, yang dia beli semata-mata untuk alasan sentimentil. Kita sebut mobil ini The Green Boat. Mobil ini dia rencanakan akan jadi mobil show, tapi dilalah.. waktu dan keuangannya tidak memungkinkan Suami untuk ngurusin mobil ini. Di saat argumen ini terjadi, nomor platnya The Green Boat expired. Nah kalau mobil expired gini dan parkir di jalan, bisa dapet tiket! Satu tiket harganya $25. Lumayan kan? Bisa buat makan siang di restoran Thai tuh.

Dan betul saja.. walaupun kita cuma pernah telpon polisi sekali soal anjingnya Mbak Suster yang menggonggong tiada henti di jam 12 malam.. Mbak Suster “membalas” dengan nelponin polisi berkali kali tentang si Green Boat. Kebetulan pamannya Mbak Suster itu sersan pangkatnya di kantor polisi lokal. (siapa bilang nepotisme cuma di Indonesia aja? Di sini juga ada kok, cuma lebih hush-hush aja.. hahaha). Alhasil ada 5 kali Green Boat ditiket.. silahkan dihitung aja, total jendralnya $125. Kalau kita ponakannya bang Bill Gates sih nggak apa-apa kalik ya.. nah ini? Kita manusia biasa.. uang segitu kan sangat berguna. Bisa buat bayar listrik dan internet tuh!

Gue langsung wanti wanti ke suami, kita cari storage aja untuk si Green Boat. (Garasi kita sangat kecil, dan Green Boat itu panjang banget jadi nggak muat. Karena kita tinggal di daerah deket downtown, masih city, bukan suburbia, kita nggak punya driveway sehingga mobil parkirnya di pinggir jalan depan rumah.) Suami pengennya malah jual aja, katanya udahlah, nggak akan ada waktu juga ngurusin Green Boat. Gue kasian banget, karena gue tau Green Boat ini artinya bener2 besar buat dia. Akhirnya.. dijuallah Green Boat. Sedih banget rasanya.

Pada saat itu kita betul betul sama sekali nggak ngomong dengan Mbak Suster dan Pak S. Karena gue tau mereka berdua ini yang setiap hari telponin polisi laporin Green Boat. Semua karena mereka tidak mau melatih anjingnya.

Tapi dasar gue orang Asia, nggak enakan. Gue jadi kepikiran terus, mana enak sih ribut sama tetangga. Sampe susah tidur segala. Yep.. gue emang orangnya bener2 nggak enakan banget. Suami gue udah berkali2 bilang, cuekin aja, nggak usah terlalu dipikirin, mereka emang egois.

Suatu hari terjadilah klimaks dari semua kejadian ini. Aki lagi di halaman belakang, mengangkut materi kayu untuk buat pagar kayu dirumah kita. Seperti biasa dia digonggong oleh anjing2nya Pak S dan Mbak Suster. Lalu dia nyindir mereka dengan berkata ke temannya yang kebetulan saat itu lagi bantuin dia, “Kita mau pasang pagar supaya nggak digonggong sama anjing2 gila ini lagi.” Sepertinya Pak S mendengar komentar itu dan dia tersungging, terus diapun keluar ke terasnya dan berteriak, “Stop gangguin anjing gue! Elo selalu ngusilin mereka, makanya mereka gonggong terus!” (tidak betul, sodara-sodara. Anjing2 ini selalu menggonggong, ada Aki ataupun tidak. Belakangan kita ketahui bahwa dulunya juga banyak tetangga yg bermasalah dengan kebawelan anjingnya Pak S ini).

Pak S lalu melanjutkan aksi teriak teriaknya dan si Aki membalas dengan berteriak juga, “Diem aja deh, sana balik ke rumah lo!” Gue denger semua ini dari dalam dapur gue. Langsung gue lari keluar, ngelihat keributan ini. Gue yang udah capek dan MALU dengan semua konflik dengan tetangga langsung suruh si Aki masuk ke dalam rumah. Guepun bilang ke Pak S, “Boleh nggak saya ke rumah situ sekarang, kita perlu bicara nih.” Si Pak S asalnya nggak mau, masih emosyong, akhirnya dia setuju juga dengan syarat gue juga harus ngomong sama istrinya. Gue sih oke oke aja.

Lalu guepun ke sana dan minta maaf atas ulah Aki yang suka teriak2. Walaupun dalam hati kecil gue merasa gue ini sepertinya tidak perlu meminta maaf, karena istilahnya dia udah “membalas even” dengan nelponin polisi soal Green Boat kita. Tapi gue ikhlasin aja deh, sebodo amat, asal nggak ribut lagi sama tetangga, asal hati tenang dan nanti malam bisa tidur nyenyak. Gue baik2 dan tenang2 minta maaf, ternyata istrinya pak S sampe nangis2 segala, dia udah kepikiran soal ini juga rupanya. Belakangan si Mbak Susterpun ikutan menghampiri.

Sebulan kemudian, nyokap dan adik gue dateng kesini utk berlibur, dan mereka selalu ramah dan nyapa tetangga2 gue ini. Sepertinya mereka kesengsem sama keramahan nyokap & adik gue, apalagi si Oma. Waktu Baby Bubbles ultah, nyokap maksa gue untuk nganterin cupcakes ke rumah Mbak Suster dan Pak S. Asalnya sih gue ogah gitu. Tapi gue kerjain juga. Setelah itu hubungan kami dengan mereka berangsur angsur membaik, pelan pelan tapi pasti.

Dan.. percaya atau tidak, anjing2 mereka tidak menggonggong separah dulu lagi. Apalagi Pak S, sejak kejadian gue minta maaf itu, dia ngeluarin anjingnya hanya sebentar2 aja, tidak seperti dulunya yang bisa berjam-jam. Mbak Suster pun sekarang kalau malam anjingnya dimasukkan dan pagi2 jam 7 baru dikeluarkan. Kadang2 pernah ada kejadian dimana anjingnya keluar jam 5 pagi, tapi dia langsung minta maaf dan nanya apakah kita terganggu dengan anjingnya.

Kalaupun ada hikmah yang gue dapet dari semua keributan dengan tetangga ini, adalah kalau kita baik sama orang, kita bisa mencapai gol kita dengan cara yang lebih terhormat gitu. Dan kebaikan sangat banyak manfaatnya. Setidak tidaknya, kita hidup tanpa nyesel ataupun emosi negatif, dan bisa tidur tenang di malam hari. Bukankah itu semua priceless?

(Terimakasih ya Ma!)

Advertisements

The story of Pinterest and how the internet can change your ways.

Belakangan ini gue ketagihan PinterestGue secara nggak sengaja menemukan situs ini dari blog lain yang gue ikuti di tumblr dulu. Si pinterest ini adalah semacam papan buletin online. Kan sering tuh, misalnya kita lagi iseng iseng aja browsing, tau tau ada artikel menarik, atau resep menarik, atau proyek DIY menarik, produk yang menarik, atau sekedar gambar2 yang menarik yang mau kita inget2. Intinya yang menarik menarik gitu, hehe. Biasanya kalau gue menemukan sesuatu yang gue pengen baca lagi, gue bookmark aja. Tapi biasanya yang terjadi adalah, gue bookmark bookmark terus sampe folder bookmark nya udah terlalu kepenuhan.. dan walhasil si bookmark feature menjadi kurang efektif. Habis nggak menarik, gitu. Boro boro mau keingetan visit suatu webpage.. yang ada malah bawaannya kepengen menghapus semua link bookmark itu.

… sampai gue temukan si pinterest tersayang.

Segala macam artikel atau resep atau apalah yang pas kebetulan ingin kita inget2, tinggal kita “pin” aja ke papan pinterest kita dengan fitur “pin it” yang bisa didownload dari situs si pinterest ini. Yang di”pin” itu adalah gambar dari artikel tersebut. Pas kita pin, alamat situsnya juga tersimpan dalam pin itu. Jadi tinggal klik pin itu, dan kita bisa kembali ke situs yang mau kita inget2 tersebut. Karena ada gambarnya, menurut gue yang manusia visual ini, sangat mempermudah gue untuk ingat2.. ooh ini resep itu ya yang waktu itu gue save, ooh ini proyek DIY itu yang waktu itu gue nemu.

Dan yang paling gue suka dari pinterest adalah, di sini semua anggotanya berbagi link-link menarik yang mereka temukan di internet. Jadi, biasanya gue cuma login aja ke pinterest dan lihatin pin-pinnya orang lain, kalau ada yang menarik gue liat2, kalau emang gue suka, gue pin lagi di papan gue supaya gue inget2. Betul2 tidak seperti bookmark deh, lebih menarik, lebih visual.. dan pastinya nyandu. Kalau udah login ke pinterest dijamin bisa berjam-jam habis kalau nggak inget harus masak atau ngurus anak, hahaha.

Gue mau cerita nih tentang pengaruh si pinterest dalam hidup gue. Maaf lebay. Saking cintanya sampe gitu. But stick with me, you’ll see.

Gue ini orang yang paling anti-prakarya. Saking nggak berbakat dalam urusan perintilan prakarya gitu, gue dapat nilai merah untuk pelajaran prakarya dulu pas SMP. Payah banget kan.. kayaknya dulu di kelas itu gue satu satunya anak yang dapet nilai merah. Sepertinya Bu Yayu (guru prakarya gue itu, saking ganas orangnya gue sampai sekarang masih inget namanya) bener2 kesal sekaligus prihatin ama gue. Dia pernah ngeliatin gue dengan pandangan yang kalau diartikan ke kata-kata kurang lebih begini, “Kamu itu kan anak perempuan, masak sampai bener bener nggak ada bakat keterampilan gini, kamu memprihatinkan banget sih.” Kalau di zaman modern ini kayaknya memang agak seksis ya, emangnya perempuan harus bisa prakarya? Laki laki harus ngerti mobil? haha. Nggak juga kan. Tapi mari sebelum gue merepet ngalor ngidul ngomongin hal lain, kita stay on topic aja.

Nah.. gue tinggal di rumah yang sekarang ini udah hampir 2,5 tahun lamanya. Tapi saking kemampuan menghias-dekor rumah gue sangatlah pas-pasan (juga ditambah dengan tingkat kemalasan gue yang sangat luar biasa), sampai beberapa minggu yang lalu dinding2 di rumah gue ini telanjang. Alias nggak ada hiasan apa2, nggak ada foto terbingkai dan dipajang.. ada juga cuma beberapa lukisan papa mertua gue. Itupun sebetulnya karena beliau yang minta hasil karyanya dipasang dan gue sebagai menantu yang baik hati mana tega nolak.. haha.. lagian sekalian biar ada hiasan dinding gitu, walaupun minim yang penting ada.

Selama ini gue merasa tidak terganggu dengan ketelanjangan dinding rumah gue itu. Cuma kadang kalau temen ada yang lagi datang kerumah, suka ada yang komen, “kok dindingnya sampe sekarang nggak ada apa2nya. Nggak ada foto2nya.. kan pengen liat foto2 kalian.” Ya gue ketawa ketiwi cengengesan sambil mencoba berdalih, “Maklumlah gue kurang bakat dekorasi. Yah moga2 taun depan deh.”

Sampai beberapa minggu yang lalu, gue dan Baby Bubbles diajak bergabung ke playgroup lokal di daerah rumah kita. Isinya sesama ibu-ibu rumah tangga dan anak2nya yang rata2 seumuran sama anak gue. Kebetulan temen gue ada yang udah jadi anggota di playgroup itu, dan dia pikir karena gue juga sesama stay at home mom, gue akan tertarik. Betul tentunya, gue tertarik, dan anak gue juga emang pada dasarnya suka bersosialisasi, jadi dia seneng kalau kumpul2 bersama anak2 lain. Maklumlah biasa seharian cuman sama emaknya doang, bosen pastinya. Gaul dikit dong ah judulnya.

Dan.. eng ing eng… gue bener2 langsung minder saat gue menginjakkan kaki gue pertama kalinya ke rumah salah satu anggota playgroup yang kebetulan di hari itu menjadi host untuk acara playgroupnya. Cewek ini, namanya L, betul2 pantas deh kalau disebut Martha Stewart. Di Amrik sini bu Martha Stewart itukan simbol wanita2 terampil yang pinter urus rumah, hias2, bersih2, bisa jahit sendiri, masak dan bakingnya top markotop.. Rumahnya bersih, wangi, cantik, foto2nya keren keren.. kamar anaknya modern dan lucu banget, dinding2nya dihias pake wall decals yang unyu tapi keren.. Udah gitu dia masih sempat2nya baking kue2 untuk para Ibu-ibu dan anak2nya, dan buat homemade hot chocolate pulak!

Hati eike yang tidak terampil ini langsung menciut. Ohmaigot, ternyata Martha Stewart itu ada dalam kehidupan nyata ya sodara sodara..  gue pikir itu cuma mitos aja. Maklum disini kan tiada yang namanya asisten rumah tangga, segala apa2 dikerjain sendiri. Gue aja rasanya udah bagus kalau makan malam bisa tersedia on time setiap hari, semua piring kotor nggak lupa dicuci dan suami gue punya celana dalem yang bersih untuk besok ngantor. Soal ngepel, vakum karpet, lap2 jendela, kalau bisa ngerjain semua itu semiggu 2 kali rasanya udah kayak menang olimpiade. Selalu adaaa aja yang harus dikerjain.

Sementara si mbak L ini… rasanya gue pengen banget nanya2, gimana sih kamu sanggup mengerjakan itu semua? Waktunya darimana bu? Apa anaknya nggak teriak2 minta ngajak main atau baca setiap 5 menit sekali?

Intinya gue merasa pada saat itu, gue ini bukanlah seorang ibu rumah tangga yang baik dan “sepantasnya”. Apalah arti sepantasnya itu, silahkan artikan sendiri.. tapi rasa minder gue saat itu sangat mendalam banget. Gue jadi lebay dan berhari2 kepikiran soal ini. Apakah gue kurang pinter manajemen waktu?

Dan saat itu pulalah, gelora gue untuk menghias dinding rumah gue menggebu gebu. Memang ngga nyambung kali ya sodara sodara, tapi entah kenapa setelah itu gue berpikir, kalau cewek ini bisa, kenapa gue nggak bisa?

Tapi permasalahannya… untuk dekorasi rumah itu tidaklah murah, pemirsa. Sementara gue dan Suami budgetnya sangat pas-pasan. Mana rumah kita masih banyak yang harus dibenerin ininya itunya. Intinya,”dekorasi” itu tidak ada di daftar budget kita. Itu juga salah satu alasan lain kenapa urusan dekorasi ini tidak pernah jadi prioritas penting dalam rumah tangga (cuih) kita.

Suatu malam yang bosan (soalnya Suami lagi sibuk maen video game sama temannya), gue iseng2 browsing pinterest. Di pinterest ini ada kategori “DIY”. DIY, alias do-it-yourself , yaitu proyek2 orang2 yang demen ketrampilan dan mengerjakan apa2 sendiri. Kayak mengecat furnitur sendiri, membuat dekorasi rumah sendiri, jahit baju sendiri, gitu gitulah. Sambil liat sana liat sini, gue menemukan beberapa ide prakarya DIY untuk hiasan dinding yang hasilnya bagus tapi membuatnya gampang. Maklumlah gue kan bener2 tidak berbakat, jadi kalo buatnya refot, dijamin akan gagal total. Dan yang paling penting, tentunya.. MURAH! Yah, apa2 kalau bikin sendiri kayaknya jatuhnya lebih murah.

Lalu gue iseng2 ke basement, mau liat.. kita punya gabus ngga ya? Iya sodara sodara… gabus… apakah anda teringat prakarya jaman SMP dulu? Eh, ternyata kita punya, banyak pula! Suami gue hobinya membuat bir, dan waktu itu dia beli gabus banyak untuk menginsulasi ruangan fermentasi untuk bir-nya.  Ternyata masih banyak sisa gabusnya!

Nah gue potong-potonglah si gabus ini jadi 9 bagian, semua ukurannya sama. Terus gue cover si papan gabus ini dengan kain. Covernya gimana? Cukup di-staples saja. Gampang kan? Kainnya darimana? Dari baju2 batik yang dulu dikirim nyokap gue waktu gue hamil.  Baju2nya udah pada kegedean dan nggak muat lagi.. tapi motif dan warnanya lucu.  Ada juga dari kemeja2 batik suami gue yang udah kegedean.. Sempet kehabisan materi kainnya, tapi langsung ngacir ke thrift store deket rumah.. putar puter bentar, eh ketemu baju dengan motif dan warna kain yang bagus. Langsung embat.. harganya ya udah pasti sangat murah, namanya juga thrift store.

Abis itu, gue pasang sawtooth hanger di belakangnya, dan… siap di gantung deh karya prakarya pertama gue yang tidak gagal sejak jaman SMP dulu. Ini penampakannya.

This slideshow requires JavaScript.

Lumayan kan? Yah rasanya bangga dikitlah sama diri sendiri, ternyata gue nggak clueless clueless amat soal ketrampilan  macam begini. Selama ini kalau menyangkut urusan keterampilan rumah tangga, gue sukanya masak dan baking, tapi sejauh ini ya itu doang. Yang lain2.. gue tidak menguasai dengan baik, hahaha.

Setelah kelar proyek dekorasi pertama, gue jadi semangat utk ngerjain yang lain. Selanjutnya gue pasang foto2 collage di dinding dengan bingkai yang gue temukan di garage sales atau thrift store yang harganya bener2 murah abis. Hampir2an gratis lah, bisa dibilang, haha. Gue suka dengan bingkai2 yang keliatannya udah agak2 berumur, kesannya vintage aja gitu (padahal emang kere aja, beli bingkai bagus yang baru mahal, jendral.. hahaha). Bingkai foto vntage itu bisa di-sanding terus dicat ulang dengan warna apapun kesukaan gue. Yah.. itung itung gaya shabby chic tanpa keluar duit banyak , hehehehh. Inspirasi dekor nya darimana lagi.. kalau bukan dari Pinterest!

Terus untuk tree topper pohon Natal kita tahun ini… gue bikin sendiri juga! hehehehh.  Karena gue kurang suka dengan tree topper yang bentuknya bintang2 atau malaikat2 gitu, gue sukanya yang lebih modern. Habis liat2 pinterest lagi.. suami dan gue sepakat.. gimana kalo tree toppernya huruf S (inisial nama keluarga kita) yang gede dan bergelimangan dengan glitter (maaf norak dikit, maklumlah Natal) aja? Kebetulan ada artikel petunjuk untuk buat tree topper inisial itu sendiri. Lagi2 gue potong si gabus berbentuk S, terus gue hias dengan glitter perak. Warna tema pohon kita adalah merah dan perak.

Karena ada ide2 dari pinterest.. rumah kita sekarang lebih “hangat” sedikit.. it’s more of a home than just a house now. Memang dekorasi itu walaupun sedikit.. tetap pastinya merubah kesan suatu ruangan. Gue juga merasa, it’s possible to do craft now.. ternyata di luar sana banyak orang yang tidak kreatif dan tidak berbakat seperti gue, tapi tetep mencoba buat2 apa2 sendiri dengan bantuan pinterest. Gue juga seneng bisa menemukan banyak petuah petuah dan petunjuk2 untuk mengerjakan DIY dari orang2 yang emang ahli/hobi alias crafters. Sebelum pinterest, situs2 DIY gitu sepertinya komunitasnya eksklusif sesama crafters aja. Tapi melalui pinterest menurut gue semuanya jadi lebih accessible. Ngomong ngomong, banyak juga lho ide prakarya di pinterest untuk dilakukan bersama krucil krucil. Sejauh ini gue pernah dapet resep untuk homemade water color dan homemade lem untuk bikin art work sama Baby Bubbles. Semua resepnya menggunakan bahan2 yang ada di dapur sehari2, jadi nggak perlu menghabiskan uang belanja khusus utk perintilan2 itu. Gue suka terkesima ngelihat orang2 kreatif yang apa2 dibuat sendiri.. lem lah, playdough lah.. keren lah pokoknya. Semoga suatu hari nanti gue bisa terampil seperti itu.

Terimakasih ya pinterest. Aku padamyu deh pokoknya.

disclaimer : gue tidak menerima kompensasi dalam bentuk apapun dari pinterest untuk post ini. Ini bukan promosi yang disponsori, hehehehh.

Revenge : thoughts.

Last night I finished watching the first 10 episodes of Revenge. I started watching because I’ve been reading some pretty good reviews from people whose opinion I generally value in high regard (in other words, cool people on the internets).

Well, all I can say is, if you enjoy Latin telenovelas, daytime soaps and The West Wing, you sure will find this one hard to resist.

The story is about a beautiful girl in her late twenties, I presume, who has altered her past identity into a completely new person, Emily. Emily is fit and perfectly trained, cold hearted and focused on her goals. What she wants, she gets. Emily’s past is ridden with tragedy, her father framed for a crime he didn’t commit, therefore sentencing both of them into life in living hell. Him in prison, later on we’d find that he passed away serving his time. And her under the undesirable care of Social Services. Later on we’d find that she landed a gig serving in juvie, essentially a prison for troubled youth who committed unlawful acts, where she met another young woman with whom she stroke a deal  – this woman would take on her past identity, and she would take this woman’s identity : Emily.

Emily’s father left her with a hefty sum of inheritance, enabling her to live a life where nothing is ever too much a concern. Except everything is always a concern when you have so much grudge and hatred. The moment she found out that her father wasn’t guilty (simultaneously also the moment she found out she is a young billionaire) was the moment she decided to plot her revenge.

We are taken to summer 2011, in the Southamptons, where the rich mingle about with each other and where Emily got herself a beach house located strategically right next to the mansion of the Graysons, the people responsible for her father’s tragic fate. The rest is well, I don’t want to go too much into it. Episodes after episodes we are shown the people Emily took down (and of course, how she took them down), one by one.

Does the storyline sound awfully repeated and familiar? Why, of course it is. It’s a recipe that’s been proven again and again to work in television. And who am I to resist? Although every ending can be easily predicted, I still find myself pining for the next scene, pining for the next episode, curious, wanting for more.

And another thought about the development of Emily’s character : in all honesty I feel that this Hollywood trend of “strong cold hearted female heroine falling in love with a nice guy that would later makes her mission even more difficult or even turn her into forgiveness”  thing to be an old, tired theme.

Because women are unable to remain on focus once a man is in the picture? Because somehow still, after all these time, women’s validation still depend heavily on.. yet again, men? Men’s opinion, men’s approval. I tire of it. So over that.

I would like Revenge to prove to me this is wrong. I am rooting for Emily, hoping that everything she wishes to accomplish will end up being executed well. I would like Revenge to prove to me that we can, and we will, as women, survive on our own. If Emily would like to turn around and go back to the path of forgiveness, a man shouldn’t be her reason. Because, how tragic. How sad and ironic. She, a strong woman who’s been training , preparing, and focusing for years. I’d like to think she has much much more self discipline in her.

Will she forgive? Or will she continue to be unstoppable with her revenge no matter the cost? And moreover, what would be constituted as a happy ending here?

You see, happy endings are overrated to me. It is nice, but it’s not a prerequisite for me to classify something as being “good”. Good entertainment doesn’t always guarantee you happy ending. Good entertainment guarantees you that longing for more, that rooting for your favorite character, that attachment you didn’t even realize you’ve formed with these people you’ve been watching on screen.

Good entertainment, afterall, to me, seems much like a good philosophy on living life. It isn’t about the destination, it is about the journey.

And it seems to me, although Revenge is awfully predictable and has followed a familiar pattern, it has all those delicious elements it needs to guarantee its success.

And let’s just be honest here.. watching rich, beautiful people trying to bring each other down the path of oblivion?

Count me in, baby.

Thoughts, in bullet points.

  • Spending New Year’s Eve at a party hosted by husband’s coworker. The non kid-friendly kind. Now to find something properly sequined to wear.
  • Despite our agreement not to give each other Christmas gifts this year, husband went a step ahead of his usual game and bought me The Hunger Games and a jasmine scented candle. (therefore leaving me with serious case of spousal guilt). Both of which please me greatly. The jasmine scent always reminds me of Indonesia. Always. I lit it before bedtime and think happy thoughts. I hope next year I can make it home, if not, the year after. Either way, it’s been long overdue. It would have been 8 years next year, or 9 the year after. I can’t wait for the day I get to tell baby Bubbles, “this is your other home. Always remember, you have two homelands.”
  • The Hunger Games wasn’t as impressive as I thought it’d be. A bit too straightforward and Machiavellian for my taste. That’s not a bad thing, it’s just not too much my cup of tea nowadays. However, the trailer for the upcoming movie is quite amazing.
  • I’m now addicted to Revenge. Only a few months later than the rest of America, as usual. Delicious primetime soap, well, what can I say? I fancy me some drama. 
  • Baby Bubbles’ development is amazing. He begins to form sentences and sing songs. Also, we put those glow in the dark sky objects in his bedroom ceiling and he’s taken it upon himself to assign some objects to family members. I, for example, am given “mama star”. His dad, is given “dawee planet”. (he calls his daddy “dawee”). His grandpa (he calls him “papam”), is given a “papam star”, and his Nenek (my mother), is given a “nenek star”. And he assigns to himself a moon.. “(his name here) moon”. HEART MELTING INTO PUDDLES OF GOO. 
  • .. and that’ll be that. I’m ready to depart 2011 and enter 2012. 

Looking at photos of New York City around this time of the year makes me miss it so badly.

I’m not a winter person, let alone a holidays person, but NYC has something wonderfully magical about it in the winter. The stores beaming with lights, the hustle bustle, the Christmas tree at Rockefeller. NYC is welcoming. You can’t feel alone in this city, even if you are alone. NYC doesn’t let you feel pity. Its lights, its high spirit, its people, its rush. You can’t, you won’t. Being there is always a guaranteed state of euphoria.

I used to adore NYC madly. I wanted nothing more than to live there once I grow up. Then I visited it and somehow I had a change of heart. To this day I still blame it on the company I went with when I visited. Maybe if I were to go with company I actually love and enjoy, I might have a different perspective on it. I have yet to do it, and am eager for the day it will come.

But my desire to live there, I feel no more of it. Were I to choose a bustling metropolis to live, I’d scream Tokyo wholeheartedly. I won’t even think twice. Or maybe Paris. Berlin won’t be so bad either, will it?

Tokyo signifies my desires to go back to my roots. Yes, by all accounts I am a westernized woman from the East. All my life philosophies, my thoughts on religion, relationship, child rearing, politics, the world – people back home where I’m from would cringe when they hear them all. When I told my Mother about my views, she cringed. 

Then she said, “You can’t live back home with those kind of views. Maybe it is a good thing that you end up here in the Western hemisphere. I’ve always known you don’t belong back home.”

But Tokyo to me, feels like a balanced fusion of the ever so cheesy idiom east meets west. The culture, the traditions, the older days.. they’re all still there. Living peacefully alongside modernity. Alongside skyscraper buildings, high tech wow- worthy technology and western-infused new ideas.

Tokyo is where I would call, my dream home. I still miss the East, I would go back there and would prefer to live the rest of my life in that part of the world. 

As for Paris and Berlin? Well, I have always loved Europe. Ever since I could remember. Europe, to me, is a big land of stories. See, I’m a history buff. I love everything history. I spent my childhood reading Disney’s encyclopaedia our Grandfather gifted us on the world’s biggest cities and biggest wars. To this day I’ve always felt like history is my happy place. Getting to escape time.

And Europe to me, keeps its history intact. The buildings, the cobblestone, the rivers, the bridges.. they all have stories. And I would love nothing more than to go there, and listen to them tell me their stories. 

Not sure what the point to this post is. Except maybe somehow I feel nostalgic for some places.

This morning, the first snow of the season fell. The 27th day of December, 2011. And today I wish I were walking the streets of Manhattan, admiring the lights and the beauty, the dreams they offer.

And the loneliness they’ll never acknowledge.

…And now for a little splash of positivity.

I feel like nowadays all I wrote about is negativity, depressing things, and matters similar. I’d like to break the cycle today by dumping out some (mostly positive) things from my brain.

~We are having rendang (essentially one of Indonesia’s national dishes), turmeric rice, sweet corn fritters, and steamed veggie salad with peanut sauce dressing for our Christmas Eve dinner. I am so SICK of traditional American holidays spread anyway.. ya know, ham, turkey, mashed potatoes, green beans casserole and the such. We’re going to eat them Christmas day anyway (have 2 holiday parties to attend, yay!). I am so excited to have Indonesian food for Christmas eve. After dinner and putting baby Bubbles to bed, I’m still debating whether or not I should attend the midnight Christmas service at the Cathedral. Either that or the morning. I don’t know. My husband might not be down with the idea. But I feel like I need to, I have to, go to mass.

~For Christmas breakfast, we’re having baked french toast, fresh fruit salad, some sausage and mimosas. Booze in the morning? Well, it’s Christmas. I plan on constantly being in a state of “happiness” all throughout the day. 

~We’ll be going to 2 holiday parties with some wonderful families. Very blessed to have been invited. Now I just have to figure out what to bring. I’m thinking a box of truffles for each party host from a famous local chocolatier.

~Remember this? Both of them replied. I am beyond ecstatic, beyond blessed. Now I am on to finding more email address of old friends to get in touch with them again. Did I say I am so happy? Because I am. Christmas miracle, I tell ya!

~Going shopping tonight. That’s always good.

I’ve done my part. I have to let go.

I don’t regret anything. 

Wanna know how adulthood feels like? Painful.

But I’ve won against myself and my own ego yesterday. 

I’d like to pat myself in the back, move on to happy times.

Mama always says.. “jangan hidup kayak orang susah.”

I intend to do just that, ma. (and thanks a lot for the peptalk)