The story of Aki and the neighbors’ dogs

Perkenalkan Aki, papa mertua gue. Aki ini umurnya separuh baya. Panggilan Aki ini dikasih oleh Mama gue untuk sang besannya ini. Mama gue kan orang Sunda tulen, dalam bahasa Sunda, Aki itu adalah panggilan untuk kakek. Sebutan Aki ini juga berfungsi sebagai bahasa kode kami bertiga (gue, Mama & adik) pada saat kita membahas doi di musim panas kemarin dimana Mama dan adik gue liburan kesini. Perlu dicatat, bahwa Mama nggak panggil si Aki itu “Aki” pada saat ngomong langsung ke orangnya, ya. Hehehe. (Mama panggil namanya aja biasanya).

Aki tinggal bersama gue, Suami, dan Baby Bubbles. Aki ini kalau di Amrik sini tipe-tipenya bisa digolongkan sebagai seorang “hippie”. Profesi Aki adalah tukang kayu dan tukang bangunan. Cita cita Aki untuk hari tuanya adalah membuka bed & breakfast di pegunugan di negara bagian Colorado, karena Colorado adalah tempat favorit dia. Kekurangan si Aki adalah.. tidak pintar manajemen finansial. Sampai pada akhirnya Aki bangkrut dan harus tinggal bersama satu-satunya anaknya, yaitu Suami. (Aki sudah bercerai dari mertua perempuan gue, Ibunya si Suami).

Gue ini bukan tipe menantu yang rese sama mertua. Dan sebelum Aki pindah ke rumah kita, gue berharap harap cemas bahwa si Aki ini tidak akan menjadi tipe mertua rese. Gue tergolong cuek. Asalkan Aki nggak jorok ataupun sok kuasa, gue cuek aja.  Prinsip gue kita saling menghargai, saling menyayangi, namanya juga keluarga. Di awal-awal waktu Aki pindah kesini, sepertinya Aki terkena depresi. Dia sedih karena merasa impian masa tuanya buyar karena kebangkrutannya. Tapi Aki walaupun sedih gitu kebanyakan hanya diam saja atau menyibukkan diri dengan ikut grup-grup pecinta lingkungan (Aki juga seorang aktivis pembela hak lingkungan) dan cari teman. Aki pun suka bantu bantu membetulkan segala macem masalah di sekitar rumah.

Lalu Aki pun mulai berteman di sekitar daerah rumah kita. Salah satu teman Aki adalah tetangga kita Pak S, rumahnya dua rumah ke sebelah kanan kita. Pak S ini orangnya cukup ramah dan hobinya ngobrol2 sama tetangga (dibaca : gosip). Pak S ini juga punya 2 anjing jantan, jenisnya basset hound dan beagle. Bagi para pecinta anjing, tentunya udah tau kalau beagle ini suara gonggongannya mantap dan sangat berisik. Apalagi kalau tidak terlatih, si beagle ini biasanya akan menggonggong terus, biasanya kalau ada orang lewat, ada binatang lain lewat, ada suara sirene, bahkan terkadang hanya suara angin bertiup aja dia akan gonggong. Nggak cuman si beagle, basset houndnya juga sama.

Intinya, dua  anjingnya Pak S ini sangatlah tidak terlatih dan selalu menggonggong. Dan Aki sangat tidak suka dengan suara gonggongan anjing. Dia lebih tidak suka lagi dengan anjing yang tidak terlatih. Dalam pikiran si Aki, kalau orang mengadopsi binatang peliharaan itu seperti punya anak sendiri, harus dilatih dan disayang. Jangan dicuekin aja, karena binatang juga punya perasaan seperti manusia. Dan jangan sampai karena kecuekan kita sebagai orangtua si binatang, mereka jadi mengganggu ketenangan hidup bertetangga.

Aki sering banget teriak “shut up!” kepada si dua anjing bawel ini kalau dia pas kebetulan lewat halaman belakang kita dan digonggong oleh duo anjing bawel. Memang kok kayaknya tidak anggun banget ya, kenapa harus teriak2 begitu. Aki pernah berantem pula sama istrinya Pak S. Waktu itu Aki sedang mengecat teras belakang kita dan duo anjing bawel nggak henti hentinya menggonggongi dia. Karena Aki kesal, lalu dia bawa keluar sebuah radio, pasang ke stasiun favoritnya, dan volumenya dikencangkan sampai pol. Istrinya Pak S tanya, “bisa nggak sih volume radionya diturunkan, saya jadi nggak bisa buka jendela nih.” Lalu si Aki membalas, “bisa nggak anjing situ volumenya diturunkan?” Istrinya Pak S bersungut sungut kesal, dan bilang “Saya nggak bisa berbuat apa-apa soal anjing saya, tapi saya bisa berbuat sesuatu menyangkut Anda!” (diterjemahkan : dia akan nelpon polisi. Orang sini apa-apa telpon polisi soalnya). Si Aki pun membalas dengan cueknya, ” Silahkan aja telpon polisi.” 

Ternyata itu cuma ancaman kosong aja. Istrinya Pak S nggak telpon polisi sama sekali. Sejak saat itulah hubungan suami istri S dan Aki pun berangsur angsur memburuk.

Tentangga sebelah kanan kita, Pak T, kebetulan beberapa bulan sesudah terjadinya argumen itu, pindah rumah. Rumahnya kosong selama beberapa bulan sampai tetangga baru pindah. Tentangga barunya ini kebetulan adalah keponakannya sendiri, mari kita sebut Mbak Suster (lagi-lagi panggilan sayang dari nyokap gue. Waktu nyokap tanya apa profesinya gue bilang, dia lobotomist, kerja di rumah sakit. Bukan suster. Tapi Mama cuek aja dan sejak saat itu selalu nyebut dia Mbak Suster).

Pada saat awal-awal Mbak Suster pindah ke rumah sebelah, dia punya satu anjing, kurang jelas jenisnya apa. Tapi anjingnya ini sangat terlatih, kalem dan tidak suka gonggong. Mbak Suster dan Pak S ini adalah sohib banget. Mereka sering kongkow kongkow di depan rumah, pokoknya bener2 akrab banget deh.

Suatu hari, terjadilah argumen antara Aki dan nenek tetangga dirumah sebelah kiri kita, kita sebut si Oma (lagi-lagi, panggilan dari Nyokap gue, hahaha). Aki menghardik anjing si Oma yang biasanya terlatih dan tidak suka gonggong, tapi kebetulan hari itu gonggong, dan si Oma pun jadi kesel dibuatnya, lalu Oma teriak balik ke si Aki. Menurut cerita dari dua belah pihak yang gue denger, terjadilah pertukaran kata-kata dari kamus kebun binatang. Pokoknya… sangat memalukan. Memprihatinkan.

Gue biasanya cukup cuek, maksud gue, itu urusan si Aki gitu, gue tidak mau ikut campur. Gue sendiri sih nggak pernah bermasalah soal anjing, biasanya gue cuekin aja. Dulu dirumah gue di Bogor kita punya tetangga yang pelihara beberapa anjing dan sering menggonggong, jadi gue terbiasa.

Tapi sejak saat dia berantem dengan si Oma gue mulai perduli. Karena.. Oma ini umurnya hampir 80 tahun, pemirsa. Mana pantes si Aki yang secara umur pantas jadi anaknya Oma teriak2 seperti itu ke beliau? Lagipula sejak  sebelum Aki pindah bersama kita, gue dan suami itu sayang banget sama si Oma, begitu pula sebaliknya. Oma suka kasih kue, suka kasih Baby Bubbles treats, sering ngajak ngobrol dan suka ngingetin tentang berbagai hal2 yang perlu kita perhatikan menyangkut kehidupan di lingkungan ini. Oma sudah tinggal di rumah sebelah itu lebih dari 50 tahun lamanya.

Gue tegurlah si Aki secara sopan dan baik-baik, gue bilang tolong dong Ki, jangan berteriak gitu sama Oma yang udah sepuh. Nggak pantas. Kalaupun Aki ada masalah sama tetangga, coba omongin aja ke kita dulu, biar kita aja yang handle ke tetangga. (Karena udah jelas, si Aki ini kurang mengerti gimana caranya berkomunikasi yang baik dan efektif). Aki nggak perduli, katanya. Ya udahlah, gue juga nggak mau ribut sama mertua yang tinggal sama sama serumah.

Gue minta maaf ke Oma. Oma bilang nggak usah kamu minta maaf, itu kan bukan salah kamu. Tapi gue tau sebetulnya Oma masih kesel, karena dia pasti harapannya ya si Aki yang minta maaf ke dia.

Nah si Oma cerita ke Pak S. Pak S jadi ikutan kesel, lalu dia cerita ke Mbak Suster. Pokoknya karena si Aki, kita semua jadi disebelin oleh tetangga. Betulan deh, nila setitik, rusak susu sebelanga.

Nggak lama setelah itu, Mbak Suster adopsi anjing keduanya. Anjingnya yang kedua ini sifatnya mirip dengan duo anjing bawelnya Pak S. Dan yang lebih kacrut lagi, anjingnya yang suka gonggong ini dikeluarkan jam 5 pagi, karena dia harus berangkat kerja jam 5.30 pagi!

Gue dan suami setiap pagi bangunnya jam 5:45, kita pasang alarm. Terbayanglah kekesalan kita saat kita dibangunkan secara paksa oleh gonggongan si anjing bawel ini. Suami gue nulis surat ke Mbak Suster yang dia drop di kotak suratnya. Mbak Susterpun tersinggung, entah kenapa, padahal kata2 yang Suami pergunakan di surat itu sopan sekali. Dia makin menjadi jadi dan anjingnya ditinggalkan semalaman di luar, gonggong dengan kerasnya.

Suatu hari, Suami gue udah nggak tahan lagi, dia merasa kayaknya Mbak Suster ini nyolotin kita. Diapun nyamperin mbak Suster, dan terjadilah argumen. Suami gue bilang bahwa peraturan kota adalah diantara jam 10:30 malam sampai jam 7 pagi, ketenangan itu wajib. Mbak Suster nggak terima. Suami gue bilang, kalau ini terjadi lagi, kita akan telpon polisi. Mbak Suster bilang, silahkan aja, saya akan laporkan mereka tentang mobil kamu!

Nah loh.. ada cerita lagi nih sodara sodara, soal si mobil. Suami gue sempet punya mobil antik, tahun 1970-an, yang dia beli semata-mata untuk alasan sentimentil. Kita sebut mobil ini The Green Boat. Mobil ini dia rencanakan akan jadi mobil show, tapi dilalah.. waktu dan keuangannya tidak memungkinkan Suami untuk ngurusin mobil ini. Di saat argumen ini terjadi, nomor platnya The Green Boat expired. Nah kalau mobil expired gini dan parkir di jalan, bisa dapet tiket! Satu tiket harganya $25. Lumayan kan? Bisa buat makan siang di restoran Thai tuh.

Dan betul saja.. walaupun kita cuma pernah telpon polisi sekali soal anjingnya Mbak Suster yang menggonggong tiada henti di jam 12 malam.. Mbak Suster “membalas” dengan nelponin polisi berkali kali tentang si Green Boat. Kebetulan pamannya Mbak Suster itu sersan pangkatnya di kantor polisi lokal. (siapa bilang nepotisme cuma di Indonesia aja? Di sini juga ada kok, cuma lebih hush-hush aja.. hahaha). Alhasil ada 5 kali Green Boat ditiket.. silahkan dihitung aja, total jendralnya $125. Kalau kita ponakannya bang Bill Gates sih nggak apa-apa kalik ya.. nah ini? Kita manusia biasa.. uang segitu kan sangat berguna. Bisa buat bayar listrik dan internet tuh!

Gue langsung wanti wanti ke suami, kita cari storage aja untuk si Green Boat. (Garasi kita sangat kecil, dan Green Boat itu panjang banget jadi nggak muat. Karena kita tinggal di daerah deket downtown, masih city, bukan suburbia, kita nggak punya driveway sehingga mobil parkirnya di pinggir jalan depan rumah.) Suami pengennya malah jual aja, katanya udahlah, nggak akan ada waktu juga ngurusin Green Boat. Gue kasian banget, karena gue tau Green Boat ini artinya bener2 besar buat dia. Akhirnya.. dijuallah Green Boat. Sedih banget rasanya.

Pada saat itu kita betul betul sama sekali nggak ngomong dengan Mbak Suster dan Pak S. Karena gue tau mereka berdua ini yang setiap hari telponin polisi laporin Green Boat. Semua karena mereka tidak mau melatih anjingnya.

Tapi dasar gue orang Asia, nggak enakan. Gue jadi kepikiran terus, mana enak sih ribut sama tetangga. Sampe susah tidur segala. Yep.. gue emang orangnya bener2 nggak enakan banget. Suami gue udah berkali2 bilang, cuekin aja, nggak usah terlalu dipikirin, mereka emang egois.

Suatu hari terjadilah klimaks dari semua kejadian ini. Aki lagi di halaman belakang, mengangkut materi kayu untuk buat pagar kayu dirumah kita. Seperti biasa dia digonggong oleh anjing2nya Pak S dan Mbak Suster. Lalu dia nyindir mereka dengan berkata ke temannya yang kebetulan saat itu lagi bantuin dia, “Kita mau pasang pagar supaya nggak digonggong sama anjing2 gila ini lagi.” Sepertinya Pak S mendengar komentar itu dan dia tersungging, terus diapun keluar ke terasnya dan berteriak, “Stop gangguin anjing gue! Elo selalu ngusilin mereka, makanya mereka gonggong terus!” (tidak betul, sodara-sodara. Anjing2 ini selalu menggonggong, ada Aki ataupun tidak. Belakangan kita ketahui bahwa dulunya juga banyak tetangga yg bermasalah dengan kebawelan anjingnya Pak S ini).

Pak S lalu melanjutkan aksi teriak teriaknya dan si Aki membalas dengan berteriak juga, “Diem aja deh, sana balik ke rumah lo!” Gue denger semua ini dari dalam dapur gue. Langsung gue lari keluar, ngelihat keributan ini. Gue yang udah capek dan MALU dengan semua konflik dengan tetangga langsung suruh si Aki masuk ke dalam rumah. Guepun bilang ke Pak S, “Boleh nggak saya ke rumah situ sekarang, kita perlu bicara nih.” Si Pak S asalnya nggak mau, masih emosyong, akhirnya dia setuju juga dengan syarat gue juga harus ngomong sama istrinya. Gue sih oke oke aja.

Lalu guepun ke sana dan minta maaf atas ulah Aki yang suka teriak2. Walaupun dalam hati kecil gue merasa gue ini sepertinya tidak perlu meminta maaf, karena istilahnya dia udah “membalas even” dengan nelponin polisi soal Green Boat kita. Tapi gue ikhlasin aja deh, sebodo amat, asal nggak ribut lagi sama tetangga, asal hati tenang dan nanti malam bisa tidur nyenyak. Gue baik2 dan tenang2 minta maaf, ternyata istrinya pak S sampe nangis2 segala, dia udah kepikiran soal ini juga rupanya. Belakangan si Mbak Susterpun ikutan menghampiri.

Sebulan kemudian, nyokap dan adik gue dateng kesini utk berlibur, dan mereka selalu ramah dan nyapa tetangga2 gue ini. Sepertinya mereka kesengsem sama keramahan nyokap & adik gue, apalagi si Oma. Waktu Baby Bubbles ultah, nyokap maksa gue untuk nganterin cupcakes ke rumah Mbak Suster dan Pak S. Asalnya sih gue ogah gitu. Tapi gue kerjain juga. Setelah itu hubungan kami dengan mereka berangsur angsur membaik, pelan pelan tapi pasti.

Dan.. percaya atau tidak, anjing2 mereka tidak menggonggong separah dulu lagi. Apalagi Pak S, sejak kejadian gue minta maaf itu, dia ngeluarin anjingnya hanya sebentar2 aja, tidak seperti dulunya yang bisa berjam-jam. Mbak Suster pun sekarang kalau malam anjingnya dimasukkan dan pagi2 jam 7 baru dikeluarkan. Kadang2 pernah ada kejadian dimana anjingnya keluar jam 5 pagi, tapi dia langsung minta maaf dan nanya apakah kita terganggu dengan anjingnya.

Kalaupun ada hikmah yang gue dapet dari semua keributan dengan tetangga ini, adalah kalau kita baik sama orang, kita bisa mencapai gol kita dengan cara yang lebih terhormat gitu. Dan kebaikan sangat banyak manfaatnya. Setidak tidaknya, kita hidup tanpa nyesel ataupun emosi negatif, dan bisa tidur tenang di malam hari. Bukankah itu semua priceless?

(Terimakasih ya Ma!)

Advertisements